Mei 2026 Jadi Titik Tekan Harga, Rupiah Melemah Ancam Biaya Impor Meluas

Kenaikan harga di jalur perdagangan besar mulai memberi sinyal bahwa tekanan biaya belum selesai merambat ke perekonomian. Di saat yang sama, pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat ancaman imported inflation semakin dekat, terutama bagi sektor yang banyak memakai bahan baku dari luar negeri.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, menilai dampak pelemahan rupiah mulai terasa pada komponen impor mulai Mei 2026. Menurut dia, tekanan itu tidak berhenti di biaya masuk barang, tetapi dapat bergerak ke biaya produksi dan akhirnya ke harga jual yang dibayar konsumen.

Sektor yang paling cepat merasakan tekanan

Kelompok usaha dengan kandungan impor tinggi menjadi area paling rentan. Obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, dan telekomunikasi masuk daftar sektor yang berpotensi terdampak lebih dulu.

Saat biaya bahan baku naik, pelaku usaha biasanya dihadapkan pada dua pilihan. Mereka dapat menahan margin keuntungan atau meneruskan kenaikan itu ke harga jual.

Pelemahan rupiah karena itu tidak hanya menjadi isu pasar valuta asing. Dalam praktiknya, gejolak kurs dapat mengubah struktur biaya di banyak sektor sekaligus.

Indikator harga grosir mulai bergerak

Sinyal tekanan harga juga sudah terlihat dari data Indeks Harga Perdagangan Besar yang dirilis Badan Pusat Statistik. Telisa menyebut IHPB biasanya memengaruhi inflasi IHK, sehingga kenaikan di level perdagangan besar sering menjadi penanda awal sebelum tekanan meluas ke konsumen.

Badan Pusat Statistik mencatat IHPB naik 3,81 persen secara tahunan pada April. Angka itu bergerak dari 106,00 pada Januari menjadi 109,07, yang memperkuat sinyal bahwa tekanan harga di jalur distribusi sedang meningkat.

Kenaikan di level produsen atau pedagang besar belum selalu langsung muncul di etalase toko. Namun, pergerakan itu kerap menjadi tahap awal sebelum inflasi lebih luas terbentuk di tingkat konsumen.

Rupiah masih berada di bawah tekanan

Di pasar spot, rupiah terdepresiasi 5,99 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun kalender berjalan. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah ke Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.

Tekanan yang sama juga tampak pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia. JISDOR melemah ke Rp17.666 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.

Kondisi ini membuat biaya impor lebih mudah naik ketika perusahaan masih bergantung pada transaksi berbasis dolar AS. Semakin besar ketergantungan itu, semakin cepat tekanan kurs bisa masuk ke biaya produksi.

Mitigasi perlu bergerak lebih awal

Di tengah risiko tersebut, otoritas dan pelaku usaha didorong menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. Efisiensi biaya logistik dinilai penting untuk membantu menahan kenaikan biaya produksi yang berpotensi menular ke harga akhir.

Telisa juga menekankan pentingnya menjaga kenaikan harga jual tetap rasional agar daya beli masyarakat tidak makin terbebani. Selain itu, diversifikasi mata uang non-dolar dalam transaksi internasional dinilai perlu diperluas.

Dorongan itu muncul karena ketergantungan pada dolar AS membuat imported inflation lebih mudah terbawa ke dalam negeri saat rupiah melemah. Dengan stabilitas rupiah yang masih menjadi perhatian, Mei 2026 dipandang sebagai periode penting untuk melihat seberapa jauh tekanan biaya impor menembus inflasi nasional.

Baca Juga

Back to top button