Menanti Putusan MSCI, IHSG Tersungkur Didera Jual Asing dan Tekanan BREN-DSSA

Menjelang keputusan evaluasi MSCI pada 11 Mei 2026, pasar saham domestik bergerak dengan kewaspadaan tinggi. Fokus investor tertuju pada BREN dan DSSA yang disebut berpotensi tersingkir dari indeks karena isu konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau high shareholding concentration.

Kekhawatiran itu muncul di saat IHSG sudah lebih dulu menerima tekanan dari aksi jual asing. Pada Senin, indeks ditutup turun 0,92 persen ke 6.905,62, sementara MSCI Indonesia terkoreksi 2,11 persen dan ETF EIDO melemah 1,75 persen.

Arus keluar dana asing menjadi faktor yang paling terasa di perdagangan. Investor asing membukukan jual bersih Rp659,16 miliar di pasar reguler, dan jika dihitung di seluruh pasar nilainya mencapai Rp751,15 miliar.

Tekanan jual itu merata ke hampir seluruh sektor. Sektor transportasi menjadi yang paling lemah dengan koreksi 2,88 persen, sedangkan sektor infrastruktur justru bergerak naik 1,52 persen di tengah pasar yang cenderung merah.

Di level saham, pelemahan juga menghantam emiten berkapitalisasi besar. DSSA turun 13,36 persen, BMRI melemah 8,21 persen, dan BREN terkoreksi 7,56 persen pada hari yang sama.

Meski indeks tertekan, beberapa saham masih mampu mencatat penguatan kuat. MORA melonjak 20,00 persen, BYAN naik 5,80 persen, dan ASII menguat 3,86 persen, menunjukkan pasar masih selektif dalam memilih emiten.

Sorotan ke BREN dan DSSA membuat evaluasi MSCI menjadi perhatian utama pelaku pasar. Perubahan komposisi indeks berpotensi memengaruhi arus dana dan minat investor terhadap saham-saham tertentu, sehingga respons pasar cenderung lebih hati-hati.

Di tengah volatilitas bursa, aktivitas korporasi tetap berjalan. PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) melalui PT Raharja Energi Negeri (REN) resmi mengakuisisi 5 persen hak partisipasi di Wilayah Kerja Kasuri Block, Papua Barat, dari Genting Oil Kasuri Pte Ltd.

Nilai transaksi itu mencapai US$9,64 juta atau setara Rp165 miliar. Manajemen menyebut angka tersebut setara 17,05 persen dari total ekuitas perseroan per akhir 2025.

Kasuri Block sendiri memiliki cadangan gas 2,67 triliun kaki kubik dengan target produksi hingga 230 juta kaki kubik per hari. Di sisi lain, PT Resource Alam Indonesia Tbk. (KKGI) memperluas bisnis ke pergudangan, kawasan wisata, dan jasa informasi pariwisata melalui penambahan sejumlah KBLI baru.

Dari sektor perbankan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp56,62 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp850,17 miliar atau 55,01 persen dari laba bersih.

Bank Jatim juga mencatat pendapatan bunga dan syariah tumbuh 22,79 persen menjadi Rp10,29 triliun sepanjang 2025. Laba bersih perseroan naik menjadi Rp1,62 triliun, dengan dividend yield di kisaran 9,52 persen.

Dengan arus asing yang masih keluar, tekanan pada saham-saham besar belum mereda. Pasar kini menunggu hasil evaluasi MSCI untuk melihat apakah volatilitas di awal pekan akan berlanjut atau justru berubah arah.

Baca Juga

Back to top button