Mesin Domestik Masih Menopang Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Ekspor Justru Tertahan

Laju ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 masih bertahan kuat berkat permintaan dari dalam negeri, meski sisi perdagangan luar negeri belum memberi dorongan yang sepadan. Pertumbuhan tercatat 5,61 persen secara tahunan, sementara ekspor tampak lebih rapuh ketika impor bergerak lebih cepat.

Badan Pusat Statistik mencatat Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.187,2 triliun. Pada harga konstan 2010, PDB berada di Rp 3.447,7 triliun, menandakan aktivitas ekonomi tetap berjalan dalam skala besar di awal tahun.

Permintaan rumah tangga dan investasi masih menjadi penopang

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga kembali menjadi penyangga utama ekonomi nasional. Kontribusinya mencapai 54,36 persen terhadap PDB, dengan pertumbuhan 5,52 persen sepanjang periode laporan.

Pembentukan Modal Tetap Bruto juga menunjukkan peran penting melalui pertumbuhan 5,96 persen. Dua komponen ini menjaga laju ekonomi tetap berada di jalur positif meski perdagangan luar negeri belum tampil sekuat itu.

Sektor jasa dan logistik bergerak lebih cepat

Jika dilihat dari sisi produksi, beberapa sektor jasa justru mencatat akselerasi yang menonjol. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh paling tinggi sebesar 13,14 persen, disusul jasa lainnya yang naik 9,91 persen.

Transportasi dan pergudangan juga tumbuh 8,04 persen, melampaui laju ekonomi secara umum. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, menilai pergerakan logistik seperti ini menjadi sinyal penting karena ikut menopang pertumbuhan nasional.

Industri pengolahan masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,04 persen. Namun, sektor tersebut turun 0,77 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, sehingga tekanan pada level kuartalan masih terlihat.

Ekspor tertinggal dari impor

Dari sisi perdagangan luar negeri, pertumbuhan ekspor barang dan jasa hanya mencapai 0,90 persen. Pada saat yang sama, impor naik 7,18 persen dan memperlihatkan tekanan yang belum sepenuhnya tertutup oleh kinerja ekspor.

Selama Januari hingga Maret 2026, nilai ekspor mencapai 66,85 miliar dollar AS. Pada Maret 2026, ekspor justru terkontraksi 3,10 persen secara tahunan menjadi 22,53 miliar dollar AS.

Sebaliknya, impor pada periode yang sama naik 10,05 persen menjadi 61,30 miliar dollar AS. Kenaikan itu terutama didorong kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung produksi nasional.

Surplus masih ada, tetapi menyempit

Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 5,55 miliar dollar AS. Meski tetap positif, angka itu jauh lebih kecil dibandingkan surplus tahun sebelumnya yang mencapai 10,91 miliar dollar AS.

Pelemahan ekspor paling terasa pada sektor pertanian yang anjlok 32,18 persen. Ekspor pertambangan juga turun 11,17 persen, sementara industri pengolahan masih tumbuh 3,96 persen dan membantu menahan sebagian tekanan.

Setijadi menilai kenaikan impor bahan baku dan barang modal sebaiknya diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional. Menurut dia, langkah itu penting untuk memperdalam rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan impor dalam jangka menengah.

Ketimpangan wilayah masih terlihat

Pulau Jawa tetap menjadi pusat terbesar ekonomi nasional dengan kontribusi 57,24 persen. Di luar itu, beberapa wilayah justru mencatat pertumbuhan lebih tinggi, seperti Bali-Nusa Tenggara yang tumbuh 7,93 persen dan Sulawesi yang naik 6,95 persen.

Peta ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya bergantung pada pusat-pusat ekonomi utama. Dalam situasi ekspor yang masih tertahan, ketahanan permintaan domestik dan gerak sektor jasa menjadi bantalan utama bagi ekonomi nasional.

Baca Juga

Back to top button