NasDem Turun Tangan Dorong Literasi Di Lapas, 1.170 Buku Ditebar Untuk Warga Binaan

Dorongan agar buku masuk ke lembaga pemasyarakatan menguat setelah Fraksi Partai NasDem DPR RI menyerahkan 1.000 buku untuk warga binaan di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur. Lewat kegiatan Gotong Royong Literasi, partai itu ingin menunjukkan bahwa pembinaan di lapas tidak cukup berhenti pada disiplin dan kepatuhan semata.

Bagi Willy Aditya dari Fraksi Partai NasDem, warga binaan juga perlu ruang untuk membaca, menulis, dan memperluas kapasitas intelektual selama menjalani masa pembinaan. Ia menilai bekal pengetahuan sama pentingnya dengan pembinaan perilaku, terutama agar proses kembali ke masyarakat bisa berjalan lebih kuat.

Literasi sebagai bagian dari pembinaan

Willy melihat lapas seharusnya tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang belajar. Menurut dia, pembinaan yang baik perlu memberi kesempatan bagi warga binaan untuk bertumbuh, bukan sekadar patuh pada aturan yang berlaku.

Ia menegaskan bahwa literasi berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pemasyarakatan. Karena itu, penguatan akses terhadap pengetahuan perlu menjadi bagian dari ekosistem pembinaan, bukan aktivitas tambahan yang berdiri sendiri.

Buku yang dikirim punya ragam isi

Buku yang disalurkan merupakan hasil gotong royong anggota Fraksi Partai NasDem. Jumlahnya mencapai 1.170 buku dan ditujukan sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan literasi nasional di lingkungan pemasyarakatan.

Koleksi itu mencakup beragam tema, mulai dari biografi, sejarah, agama, filsafat, sosial budaya, dan politik. Ada pula buku keterampilan yang diarahkan untuk memberi bekal praktis bagi warga binaan.

Jenis keterampilan yang disertakan meliputi pertanian, peternakan, perikanan, dan pertukangan. Kehadiran buku-buku tersebut dinilai relevan untuk membantu warga binaan menyiapkan kemampuan yang bisa berguna ketika kembali ke tengah masyarakat.

Membangun lingkungan yang lebih produktif

Bagi NasDem, literasi di lapas bukan sekadar urusan membaca buku. Penguatan literasi dipandang sebagai jalan untuk membangun lingkungan pemasyarakatan yang lebih produktif dan memberi ruang tumbuh bagi warga binaan.

Willy menilai pembinaan yang efektif harus mendorong warga binaan agar bisa berkembang selama masa pembinaan berlangsung. Ia juga menekankan bahwa pengetahuan dan keterampilan perlu berjalan bersama pembinaan perilaku agar reintegrasi sosial menjadi lebih kuat.

Dalam pandangannya, literasi membantu memperluas wawasan sekaligus membentuk cara berpikir. Ia menyebut bahwa pembinaan yang baik bukan hanya soal disiplin, melainkan juga soal membangun kemampuan berpikir dan memperkaya sudut pandang.

Jejak karya dari balik jeruji

Willy juga mengingatkan bahwa sejumlah tokoh besar dunia pernah menghasilkan karya dan pemikiran pada masa tahanan. Ia menyinggung Tan Malaka, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, hingga Nelson Mandela sebagai contoh bahwa refleksi dan pengetahuan tetap bisa melahirkan karya dari balik jeruji.

Contoh itu dipakai untuk menegaskan bahwa masa pembinaan tidak harus berhenti pada pembatasan ruang gerak. Dengan akses pada buku dan literasi, warga binaan tetap bisa mengolah gagasan, menguatkan kapasitas diri, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik.

“Literasi bukan sekadar aktivitas membaca. Literasi adalah proses membangun cara berpikir, membuka wawasan, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Willy.

Dorongan tersebut menempatkan literasi sebagai bagian yang menyatu dengan pembinaan di lapas. Dengan pendekatan itu, warga binaan diharapkan mendapat bekal intelektual dan keterampilan yang berguna saat kembali menjalani hidup di luar tembok pemasyarakatan.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version