Rolling city, kesenian tradisional, hingga perjumpaan dengan komunitas lokal membuat etape kelima Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 terasa berbeda dari touring biasa. Rombongan MAXi Yamaha tidak hanya menempuh jalur selatan Jawa, tetapi juga masuk ke ruang budaya yang mempertemukan perjalanan, wisata, dan interaksi antarpengguna.
Rute Yogyakarta-Pacitan-Solo yang dilalui pada 23 sampai 25 Mei 2026 menjadi panggung untuk menunjukkan karakter itu. Di sepanjang perjalanan, jajaran Nmax “Turbo”, Aerox Alpha, Lexi LX, Xmax, hingga Tmax ikut melintas di salah satu lintasan touring yang dikenal indah sekaligus menantang di selatan Jawa.
Pacitan jadi titik yang menuntut fokus
Bagian awal perjalanan dimulai dari Yogyakarta menuju Gunungkidul, lalu masuk ke Jalur Jalan Selatan Jawa sebelum tiba di Pacitan. Pada hari pertama, rombongan menempuh jarak 155 km melalui kawasan yang diwarnai perbukitan kapur, pantai, dan bentangan Samudra Hindia.
Medan seperti itu bukan hanya menawarkan pemandangan. Tanjakan, turunan, dan kelokan hadir bergantian, sehingga peserta perlu menjaga konsentrasi dan teknik berkendara dengan baik.
Di titik ini, jalur selatan Jawa berfungsi sebagai ujian untuk pengendara sekaligus motor. MAXi Yamaha ditempatkan di kondisi yang memperlihatkan kemampuan mereka di lintasan yang berkarakter kuat.
Wisata Pacitan memperlebar fokus perjalanan
Setelah tantangan berkendara, agenda hari kedua bergerak ke sisi wisata yang lebih santai. Rombongan menyusuri Sungai Maron dengan kapal tradisional dan kemudian mengunjungi Pantai Tanjung Klayar yang menampilkan pasir putih serta latar Samudra Hindia yang terbuka luas.
Pola itu memperlihatkan bahwa Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 tidak dibangun hanya untuk riding. Yamaha menempatkan pariwisata, kebudayaan, kuliner, dan silaturahmi dengan pengguna serta komunitas Maxi Yamaha sebagai bagian dari perjalanan.
Manager PR, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Rifki Maulana, menyebut MTBN 2026 dihadirkan untuk menghidupkan esensi berkendara yang menginspirasi. Ia juga menegaskan bahwa rangkaian ini menjadi ruang untuk kembali dekat dengan alam dan budaya nusantara yang beragam.
Rifki menambahkan bahwa Maxi Tour Boemi Nusantara merupakan identitas Yamaha yang hadir rutin setiap tahun. Untuk 2026, rangkaian itu juga disebut sebagai perayaan menyambut satu dekade Maxi model di Indonesia, dengan cakupan yang lebih luas dari sekadar aktivitas riding.
Wonogiri dan Solo mengubah touring jadi ruang kebersamaan
Dari Pacitan, rombongan melanjutkan perjalanan sejauh 138 km menuju Solo. Di tengah perjalanan, peserta singgah di Wonogiri untuk menghadiri undangan dan jamuan dari Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno.
Saat tiba di Kantor Bupati Wonogiri, rombongan disambut kesenian tradisional Barongan yang memiliki filosofi keberanian dan keseimbangan hidup. Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah dan penyerahan cinderamata berupa plakat Gunungan Wayang serta replika Pandawa Lima.
Di Solo, kedatangan rombongan disambut komunitas Y-Squad. Dari sana, peserta mengikuti rolling city menuju Taman Ratu Maulidya sebelum Yamaha menggelar Y-Squad Street Star yang menampilkan jajaran motor modifikasi sekaligus menyampaikan informasi program perusahaan.
Chief Yamaha Area DSS 3 (Jawa Tengah & DIY), Bill Gunawan, menilai Maxi Tour Boemi Nusantara lebih dari sekadar touring. Ia menyebut kegiatan ini sebagai perayaan keberagaman dalam satu identitas yang terus diperkuat melalui solidaritas dan loyalitas pengguna.
Etape kelima ini memperlihatkan dua wajah jalur selatan Jawa dalam satu rangkaian. Di satu sisi, rute itu menguji rider dan motor, sementara di sisi lain, ia membuka ruang bagi alam, budaya, dan komunitas untuk bertemu dalam satu perjalanan yang sama.
Source: www.oto.com




