Peringatan Hari Kartini di Jepara menjadi ruang untuk kembali menegaskan bahwa pendidikan masih menjadi penentu utama bagi kesetaraan perempuan. Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto menyampaikan pesan itu saat menghadiri peringatan Hari Kartini ke-147 di Pendopo Kartini.
Ia menilai semangat Kartini tetap relevan karena akses pendidikan yang adil belum sepenuhnya dirasakan semua perempuan. Menurut Mugiyanto, pendidikan adalah hak dasar yang tidak boleh terhambat oleh diskriminasi.
Pendidikan sebagai ukuran kesetaraan
Dalam pandangannya, kesetaraan gender tidak bisa dilepaskan dari kesempatan belajar yang merata. Pendidikan memberi ruang bagi perempuan untuk berpikir kritis, mandiri, dan mengambil peran di berbagai bidang kehidupan.
Mugiyanto menekankan bahwa perempuan yang memperoleh pendidikan lebih luas akan memiliki bekal lebih kuat dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Karena itu, isu pendidikan tidak hanya berkaitan dengan sekolah, tetapi juga dengan posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Pesan tersebut sejalan dengan makna peringatan Hari Kartini di Jepara, yang tidak hanya berhenti pada acara seremonial. Jepara memiliki kaitan kuat dengan jejak Kartini sehingga peringatan di daerah ini membawa nilai simbolis yang besar.
Hambatan yang masih membayangi
Mugiyanto juga menyoroti bahwa perjuangan menuju kesetaraan belum selesai selama masih ada hambatan dalam pendidikan perempuan. Ia menyebut faktor-faktor seperti kemiskinan, perkawinan anak, dan pandangan sosial yang membatasi ruang gerak perempuan masih saling berkaitan.
Kondisi itu membuat upaya mencegah putus sekolah menjadi semakin penting. Ia mendorong langkah bersama untuk menekan praktik yang dapat menghambat masa depan perempuan, termasuk perkawinan anak.
Data Badan Pusat Statistik atau BPS tahun 2025 memperkuat perhatian tersebut. Angka putus sekolah perempuan di jenjang SMA masih sekitar 2,14 persen, dan situasi itu menunjukkan tantangan yang masih nyata, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Tema yang menguatkan pesan Kartini
Peringatan kali ini mengusung tema “Perempuan Bermimpi, Perempuan Menginspirasi”. Tema itu memberi dorongan agar perempuan mendapat lebih banyak ruang untuk berprestasi dan mengambil peran strategis di masyarakat.
Tema tersebut juga selaras dengan warisan Kartini sebagai tokoh yang membuka jalan bagi pendidikan perempuan di Indonesia. Dalam konteks peringatan di Jepara, pesan itu kembali dihidupkan sebagai pengingat bahwa kesetaraan perlu dijaga di berbagai lini kehidupan.
Kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Jepara serta perwakilan masyarakat membuat peringatan berlangsung dengan nuansa yang lebih luas. Perayaan itu menjadi penanda bahwa pendidikan perempuan masih menjadi isu penting yang membutuhkan perhatian bersama.
Bersentuhan langsung dengan pelajar dan komunitas perempuan
Usai acara utama, Mugiyanto melanjutkan kunjungan ke Museum Kartini. Di lokasi itu, ia berinteraksi dengan pelajar dan komunitas perempuan melalui kegiatan membatik dan mengukir.
Aktivitas tersebut lekat dengan identitas budaya Jepara dan mempertemukan nilai sejarah, pendidikan, serta pemberdayaan dalam satu ruang. Kehadiran pelajar dan komunitas perempuan di sana memperkuat pesan bahwa dukungan terhadap perempuan tidak cukup hadir dalam seremoni tahunan.
Dalam peringatan di Jepara, pesan tentang perempuan yang bermimpi dan menginspirasi kembali ditempatkan dekat dengan warisan Kartini. Pendidikan tetap dipandang sebagai landasan agar perempuan bisa tumbuh lebih mandiri, berdaya, dan memiliki kesempatan yang setara dalam kehidupan sosial.
Source: www.rmoljawatengah.id