Toyota harus menyesuaikan langkah produksi setelah gangguan akibat perang di Iran ikut menekan pasar otomotif di Timur Tengah. Salah satu model yang paling terasa dampaknya adalah RAV4, yang masuk daftar kendaraan dengan pemangkasan produksi paling besar.
Penyesuaian itu menunjukkan seberapa cepat konflik geopolitik bisa menjalar ke industri otomotif global. Saat jalur distribusi ke Timur Tengah terganggu, Selat Hormuz masih praktis terblokir, dan harga bahan bakar naik, Toyota menghadapi kombinasi tekanan pasokan dan pelemahan permintaan yang memaksa pengurangan produksi besar-besaran.
Pemangkasan paling besar menyentuh RAV4
RAV4 berada di bagian atas daftar model yang produksinya dipotong paling dalam. Posisi itu membuat SUV andalan Toyota tersebut menjadi salah satu korban paling menonjol dari situasi yang berkembang di kawasan itu.
Toyota sudah memberi tahu para pemasok bahwa produksi luar negerinya akan dipangkas sekitar 83.000 kendaraan sampai November. Pemberitahuan kepada basis pemasok itu mulai disampaikan pekan ini, dengan kenaikan harga bahan bakar dan merosotnya permintaan Timur Tengah disebut sebagai alasan utama.
Pemotongan ini tidak hanya berlaku untuk satu model. Sejumlah kendaraan berbasis platform Innovative International Multi-purpose Vehicle milik Toyota juga ikut terdampak, termasuk Hilux, Fortuner, dan Land Cruiser FJ baru, serta Probox dan Corolla Touring.
Dampak merembet ke Jepang
Tekanan produksi tidak berhenti di luar negeri. Nikkei Asia melaporkan Toyota lebih dulu memangkas produksi di Jepang sebanyak 40.000 kendaraan yang ditujukan ke Timur Tengah selama Maret dan April.
Perusahaan juga menghentikan salah satu jalur di Tsutsumi Plant, Prefektur Aichi, selama dua hari bulan ini. Di Gifu Auto Body, Toyota menghentikan pekerjaan pada jalur kedua selama satu hari, yang menandakan penyesuaian sudah masuk ke operasi manufaktur di dalam negeri.
Menurut kepala akuntansi Toyota, Takanori Azuma, perusahaan biasanya mengekspor antara 500.000 dan 600.000 kendaraan per tahun ke Timur Tengah. Ia mengatakan hampir separuh dari volume itu diperkirakan terdampak oleh gangguan yang masih berlangsung.
Proyeksi masih tumbuh, tetapi tekanan laba membesar
Meski menghadapi pemangkasan produksi, Toyota masih memproyeksikan output gabungan lebih dari 10 juta kendaraan dari merek Toyota dan Lexus untuk tahun berjalan. Angka itu setara kenaikan 1 persen dibanding sebelumnya, tetapi kondisi di Timur Tengah tetap membuat prospek keuangan perusahaan lebih rapuh.
Laba bersih konsolidasi diperkirakan turun 22 persen menjadi 3 triliun yen atau $18.89 miliar. Toyota juga memperingatkan bahwa prospek pendapatan dapat memburuk lagi jika ketidakstabilan di Timur Tengah dan pasar minyak mentah meningkat lebih jauh dari perkiraan.
Situasi ini juga memperlihatkan betapa cepat produsen besar harus mengalihkan strategi saat pasar berubah mendadak. Bulan lalu, 1.400 Nissan Patrol yang semula ditujukan untuk Timur Tengah juga dialihkan ke Amerika Serikat dan akan dijual sebagai Armada.
Source: www.carscoops.com




