Pelemahan IHSG yang sudah mencapai 35,30 persen sepanjang tahun 2026 menarik perhatian pemerintah bukan semata karena besarnya koreksi, melainkan karena pasar dinilai terlalu dipengaruhi persepsi negatif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan yang muncul di bursa tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang sebenarnya.
Menurut Purbaya, aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih bergerak naik dan posisi APBN tetap bagus. Karena itu, ia menilai masalah utama saat ini justru ada pada sentimen yang berkembang di pasar, bukan pada rapuhnya fondasi ekonomi nasional.
Persepsi buruk dianggap membesar-besarkan kekhawatiran
Purbaya menegaskan bahwa penilaian buruk terhadap ekonomi Indonesia tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia menyebut persepsi negatif membuat kekhawatiran pelaku pasar ikut membesar, padahal aktivitas ekonomi masih terlihat meningkat di banyak tempat.
“Jadi, kendala utama adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita ke mana-mana semuanya economic activity meningkat,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Ia juga menyoroti pengaruh kabar buruk mengenai masa depan ekonomi nasional terhadap perilaku investor. Saat muncul anggapan bahwa ekonomi akan hancur, sebagian pelaku pasar disebut ikut terpengaruh dan mengambil sikap lebih hati-hati.
“Ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujarnya.
Tekanan di IHSG masih kuat
Di tengah perdebatan soal persepsi itu, IHSG terus berada dalam tekanan berat. Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), indeks tercatat berada di level 5.594,76, jauh di bawah posisi awal tahun yang sempat berada di kisaran 9.100-an.
Pelemahan tidak hanya terjadi dalam jangka panjang, tetapi juga terlihat jelas dalam pergerakan mingguan. Dalam sepekan, IHSG turun 8,69 persen dari 6.127,381 pada pekan sebelumnya menjadi 5.594,765.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap sentimen negatif. Tekanan yang berlangsung berbulan-bulan itu juga membuat pergerakan harian IHSG mudah terpengaruh oleh berita dan ekspektasi pelaku pasar.
Arus modal asing ikut menekan pasar
Beban bagi pasar saham domestik semakin besar karena investor asing mencatat jual bersih Rp 3,73 triliun dalam sepekan. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, penjualan bersih investor asing sudah mencapai Rp 61,36 triliun.
Arus keluar modal asing ini memperkuat tekanan yang sudah ada di pasar. Dalam kondisi seperti itu, pasar saham menjadi lebih rentan bergejolak walaupun pemerintah menilai kondisi ekonomi riil masih bergerak baik.
Pemerintah fokus pulihkan kepercayaan pasar
Di sisi lain, pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional tetap solid. Aktivitas perekonomian di berbagai wilayah disebut terus meningkat, sementara APBN juga berada dalam posisi yang baik.
Karena itu, pemerintah memandang pelemahan pasar saham tidak sepenuhnya merefleksikan kondisi ekonomi Indonesia. Fokus kebijakan pun diarahkan pada upaya memulihkan keyakinan pasar terhadap daya tahan ekonomi nasional.
Purbaya menyebut persepsi negatif itu akan dihilangkan melalui kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Menurut dia, kerja sama itu penting untuk menjaga stabilitas pasar dan meredam tekanan yang muncul di pasar keuangan.
Ia juga menyinggung intervensi terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat berada di level Rp 18.036 pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Pemerintah, kata dia, akan memperkuat koordinasi agar tekanan di pasar keuangan bisa ditekan lebih jauh.