Tekanan Rupiah Masih Terasa, Pemerintah Dan BI Perkuat Sinyal Pemulihan Pasar

Tekanan pada rupiah membuat pemerintah dan Bank Indonesia kembali menegaskan pentingnya langkah yang selaras untuk menjaga kepercayaan pasar. Di tengah situasi itu, pemerintah menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas sambil menaruh harapan bahwa rupiah dapat pulih ketika pelaku pasar melihat arah kebijakan yang lebih kompak.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fondasi ekonomi Indonesia masih kuat meski rupiah sedang berada di bawah tekanan. Ia juga menyebut kondisi APBN hingga akhir Mei 2026 menunjukkan ekonomi nasional tetap solid dan kesehatan fiskal berada pada posisi yang sangat baik.

Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan terus mengarahkan kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi bergerak lebih cepat. Pada saat yang sama, ia ingin kebijakan fiskal dan moneter berjalan lebih selaras melalui koordinasi yang lebih intensif dengan BI.

Menurut Purbaya, penguatan koordinasi dibutuhkan agar dampak kebijakan terhadap ekonomi menjadi lebih besar. Ia menilai respons atas tekanan ekonomi akan lebih efektif bila langkah fiskal dan moneter bergerak dalam arah yang sama.

Kepercayaan pasar jadi titik penting

Dalam pandangannya, sinergi yang kuat antara pemerintah dan BI dapat membantu memulihkan kepercayaan pelaku pasar. Kepercayaan itu dipandang penting karena ikut menentukan arah pergerakan rupiah di pasar.

Purbaya menegaskan bahwa kebijakan yang menyatu akan membantu mengembalikan keyakinan pasar terhadap nilai tukar rupiah. Ia berharap kondisi itu dapat mendorong rupiah bergerak menguat secara signifikan.

Pertemuan yang membahas hal tersebut juga dihadiri Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Kehadiran para pejabat itu menunjukkan koordinasi lintas lembaga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi.

Dampak pelemahan rupiah mulai terasa di bawah

Purbaya juga menyoroti bahwa pelemahan rupiah tidak hanya memberi tekanan di pasar keuangan. Ia menyebut dampaknya ikut dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor.

Ia mencontohkan perajin tempe dan tahu yang mulai tertekan karena biaya produksi naik. Sebagian pelaku usaha bahkan harus menaikkan harga jual untuk menyesuaikan lonjakan harga bahan baku.

Karena itu, stabilitas rupiah menjadi penting untuk meredam kenaikan biaya produksi yang bisa terus membebani pelaku usaha. Jika nilai tukar lebih stabil, daya beli masyarakat juga diharapkan tetap terjaga di tengah tekanan harga bahan baku impor.

Pemerintah kini menempatkan stabilitas fiskal dan koordinasi kebijakan sebagai dua alat utama untuk menghadapi guncangan eksternal. Di tengah tekanan pada rupiah, pemerintah ingin menunjukkan bahwa fondasi ekonomi tetap kuat dan ruang kebijakan masih tersedia untuk menjaga kepercayaan pasar.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version