Bagi penggemar yang berharap Honda akan membawa Prelude ke wilayah performa tinggi, kabarnya sudah jelas: pintu menuju Prelude Type R tidak dibuka. Arah pengembangan coupe ini justru dipatok ke jalur hybrid yang lebih tenang, berbeda jauh dari citra mesin turbo dan transmisi manual yang lekat dengan nama Type R.
Pilihan itu membuat Prelude berdiri di posisi yang berbeda dari Civic. Honda ingin setiap model punya peran sendiri, bukan saling menyalin formula yang sama hanya karena berbagi platform.
Prelude diposisikan sebagai mobil hybrid
Honda menempatkan Prelude sebagai model hybrid untuk gaya hidup, bukan sebagai coupe sport. Mobil ini memakai Strong Hybrid System dengan mesin 4-silinder 2.0-liter, lalu dipadukan dengan transmisi otomatis e-CVT 8-percepatan.
Kombinasi tersebut menghasilkan tenaga gabungan hingga 200 hp dan disalurkan ke roda depan. Dengan setelan seperti itu, Prelude tetap membawa karakter modern, tetapi tidak diarahkan untuk mengejar performa ekstrem di lintasan.
Honda juga menegaskan bahwa Prelude tidak akan dikembangkan ke powertrain lain. Artinya, opsi menghadirkan versi Type R dengan mesin turbo atau transmisi manual tidak masuk rencana.
Kesamaan platform tidak mengubah arah produk
Secara teknis, Prelude memang berbagi dasar sasis dengan Civic. Platform itu pada dasarnya bisa saja diadaptasi ke beberapa konfigurasi lain, termasuk format yang lebih kencang.
Namun, Honda memilih tidak memanfaatkan peluang itu. Bagi perusahaan, kesamaan platform tidak otomatis membuat tujuan produknya harus sama.
Jay Joseph, President & CEO Honda Australia, mengatakan bahwa Honda memiliki mobil berbeda untuk pelanggan yang berbeda. Menurut dia, Civic memang punya opsi Type R, sedangkan Prelude diarahkan ke sistem penggerak hybrid yang lebih sesuai untuk konsumen global.
Biaya pengembangan ikut menentukan keputusan
Di balik keputusan tersebut, biaya riset dan pengembangan menjadi pertimbangan besar. Honda sedang berada dalam situasi finansial yang menuntut pilihan investasi yang lebih hati-hati.
Perusahaan disebut mengalami kerugian besar dalam 70 tahun terakhir, dengan nilai mencapai 424 miliar yen atau sekitar Rp 47 triliun. Kerugian itu dikaitkan dengan pengembangan kendaraan listrik yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini membuat prioritas Honda bergeser. Alih-alih membuka jalur baru untuk Prelude Type R, Honda tampaknya lebih memilih memusatkan sumber daya ke model yang sejalan dengan strategi saat ini.
Hybrid jadi arah yang lebih kuat
Arah bisnis Honda kini makin menguat ke kendaraan hybrid. Pabrikan menargetkan peluncuran 15 model hybrid hingga 2030 mendatang.
Rencana itu mencakup Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype. Langkah ini menunjukkan bahwa Honda lebih ingin memperluas portofolio hybrid daripada membuka proyek performa tinggi baru untuk Prelude.
Dalam kerangka itu, Prelude ditempatkan sebagai coupe hybrid yang menonjolkan mobilitas yang lebih sejalan dengan kebutuhan pasar saat ini. Karena posisinya sudah jelas, varian performa tinggi pun tampak semakin jauh dari rencana pengembangan Honda.
Source: otomotif.katadata.co.id




