Pelemahan rupiah hingga sempat menembus Rp17.300 per dolar Amerika Serikat menjadi sorotan pasar, tetapi pemerintah menilai kondisi itu belum bisa langsung dibaca sebagai tanda melemahnya ekonomi Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa tekanan yang muncul lebih banyak dipicu gejolak pasar keuangan global dan perubahan ekspektasi pelaku pasar.
Penilaian itu membuat pergerakan rupiah ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, bukan semata-mata dilihat dari kondisi domestik. Purbaya juga menyebut fondasi ekonomi Indonesia masih lebih kuat dibanding sejumlah negara di kawasan, termasuk Malaysia dan Thailand.
Tekanan rupiah masih didorong faktor luar
Purbaya menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah sangat peka terhadap kondisi global. Karena itu, arah pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh faktor di dalam negeri, tetapi juga oleh sentimen internasional yang bisa berubah dalam waktu singkat.
Ia menegaskan bahwa rupiah dipengaruhi oleh kondisi global dan ekspektasi pasar. Dalam penjelasannya, ia juga menyoroti adanya “noise” di dalam negeri yang ikut membentuk ekspektasi, sehingga komunikasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga volatilitas tetap terkendali.
Perbandingan dengan mata uang kawasan
Purbaya turut mengaitkan pelemahan rupiah dengan dinamika mata uang di Asia Tenggara yang bergerak tidak seragam. Menurut dia, ringgit Malaysia dan baht Thailand justru menguat terhadap dolar Amerika Serikat sejak awal tahun, tetapi kondisi itu tidak bisa disamakan begitu saja dengan rupiah.
Ia menilai masing-masing negara menghadapi tekanan teknis global yang berbeda. Karena itu, kelemahan rupiah tidak otomatis berarti Indonesia berada dalam posisi yang lebih rapuh dibanding negara tetangga.
Fondasi ekonomi dinilai tetap kuat
Di tengah fluktuasi kurs, pemerintah tetap menempatkan stabilitas fundamental sebagai perhatian utama. Purbaya mengatakan fondasi ekonomi Indonesia tidak berubah dan masih berada dalam posisi kuat.
Ia bahkan melihat perekonomian Indonesia masih punya peluang bergerak lebih cepat jika hambatan struktural terus dibenahi. “Fondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan akan semakin cepat karena kita serius memperbaiki kendala-kendala struktural,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan pemerintah tidak membaca pelemahan mata uang sebagai sinyal langsung dari memburuknya kondisi ekonomi riil. Sebaliknya, tekanan kurs dinilai masih sangat dipengaruhi faktor eksternal yang belum mereda.
Fiskal masih dijaga dalam koridor aman
Dari sisi anggaran, pemerintah memastikan ruang fiskal masih terkendali. Defisit APBN tetap dijaga di bawah batas 3 persen sesuai ketentuan yang berlaku.
Purbaya menyampaikan bahwa kondisi saat ini belum cukup kuat untuk memicu perubahan besar pada APBN. “Kalau perlu, nanti ya kita bikin APBN-P. Tapi, sekarang, belum cukup untuk men-trigger itu. Jadi, masih aman,” kata Purbaya.
Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa pelemahan rupiah belum dipandang sebagai risiko fiskal yang membutuhkan respons darurat. Pemerintah masih menilai pengelolaan anggaran berada di jalur yang telah dihitung sebelumnya.
Proyeksi dan tekanan pasar masih bergerak
Dalam asumsi makroekonomi APBN 2026, pemerintah sebelumnya memproyeksikan rupiah berada di level Rp16.500 per dolar AS. Namun, proyeksi itu kini menghadapi tekanan tambahan dari penguatan indeks dolar AS dan naiknya harga minyak dunia di atas US$100 per barel.
Data perdagangan menunjukkan rupiah sempat menguat 0,52 persen ke posisi Rp17.205 per dolar AS pada Jumat sore (24/4/2026). Meski sempat bergerak naik dalam perdagangan harian, rupiah masih tercatat melemah 0,9 persen sepanjang pekan itu dan terdepresiasi 1,28 persen dalam satu bulan terakhir.
Kondisi tersebut memperlihatkan rupiah masih sensitif terhadap sentimen luar negeri dan belum bergerak stabil. Di saat yang sama, pemerintah tetap menilai kekuatan ekonomi domestik terjaga sehingga pelemahan kurs belum otomatis mencerminkan pelemahan fondasi Indonesia.





