Rekor lari robot humanoid di Beijing kini bukan lagi sekadar bahan tontonan lucu. Dalam ajang half marathon yang digelar di ibu kota China itu, robot humanoid buatan Honor mencatat waktu 48 menit 19 detik dan hasil tersebut bahkan melampaui rekor waktu manusia tercepat yang sebelumnya dipegang pelari Uganda, Jacob Kiplimo.
Pencapaian itu menandai lonjakan besar dalam kemampuan robot humanoid. Jika setahun sebelumnya peserta robot masih banyak yang bergerak tertatih, dibantu pawang manusia, dan kesulitan mencapai garis finis, kini salah satu robot justru mampu menyelesaikan lintasan 13,1 mil dengan catatan yang sangat kompetitif.
Dari tontonan canggung ke performa serius
Perubahan yang terlihat di Beijing menunjukkan bahwa robot humanoid berkembang jauh lebih cepat daripada yang banyak diperkirakan. Pada kompetisi yang dulu kerap memunculkan adegan canggung, robot kini mulai tampil dengan kemampuan lari yang stabil dan efisien.
Catatan Honor yang membukukan 48 menit 19 detik juga menempatkan robot di atas rekor dunia manusia milik Jacob Kiplimo, dengan selisih sekitar sembilan menit. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa robot humanoid mulai masuk ke level performa yang sebelumnya hanya diasosiasikan dengan atlet elite manusia.
Waktu tercepat tidak otomatis berarti juara
Meski mencatat waktu paling cepat, robot Honor tidak langsung dinyatakan sebagai pemenang utama lomba. Berdasarkan laporan Associated Press, robot tersebut dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia, sementara hasil akhir ditentukan lewat sistem skor berbobot.
Aturan penilaian itu membuat lomba tidak hanya menilai kecepatan. Stabilitas, ketahanan, dan kemampuan menyelesaikan rute secara andal ikut menentukan posisi akhir setiap peserta.
Robot otonom ikut mencuri perhatian
Selain robot yang dikendalikan dari jarak jauh, Honor juga menurunkan robot lain yang bergerak secara otonom tanpa kendali langsung manusia. Robot itu mencatat waktu 50 menit 26 detik, masih lebih cepat dari rekor manusia Kiplimo dan cukup kuat untuk bersaing di papan atas.
Karena penilaian lomba mempertimbangkan aspek lain selain catatan waktu, robot otonom Honor justru keluar sebagai pemenang. Situasi ini menunjukkan bahwa ajang tersebut bukan hanya soal siapa tercepat, tetapi juga siapa yang paling konsisten dan paling mampu menjaga performa sepanjang lintasan.
Dorongan besar China di bidang robotika
Lomba half marathon robot di Beijing juga memperlihatkan betapa seriusnya China mendorong pengembangan robotika humanoid. Ajang publik seperti ini memberi ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung hasil investasi dan riset yang selama ini berjalan di balik layar.
Pada akhir tahun lalu, pemerintah setempat sempat memperingatkan bahwa tingkat investasi yang sangat ekstrem di bidang ini bisa menekan pasar dan menghambat inisiatif riset lain. Namun di sisi lain, kompetisi seperti half marathon menunjukkan bahwa kemajuan robotika itu kini mulai tampil dalam bentuk yang bisa diuji secara nyata.
Teknologi lomba yang berpotensi dipakai di sektor lain
Bagi Honor, lomba ini bukan hanya soal catatan waktu dan piala. Du Xiaodi, test development engineer Honor, mengatakan kepada Associated Press bahwa sebagian teknologi dari robot lomba ini berpeluang dipindahkan ke area lain.
Ia mencontohkan struktur yang lebih andal dan teknologi pendingin cair sebagai dua hal yang mungkin berguna untuk kebutuhan industri di masa depan. Dengan begitu, ajang lari tidak sekadar menjadi arena demonstrasi, tetapi juga tempat menguji teknologi yang bisa dikembangkan lebih jauh di luar olahraga.
Persaingan performa robot juga makin rapat
Kemajuan di Beijing datang di tengah persaingan yang makin ketat antarprodusen robot humanoid. Awal bulan ini, Unitree memamerkan robot H1 yang mampu berlari dengan kecepatan 10,1 meter per detik atau sekitar 22 mph.
Kecepatan itu mendekati catatan Usain Bolt, yang rata-rata berlari 10,44 meter per detik saat memecahkan rekor 100 meter pada 2009. Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa robot humanoid tidak hanya mengejar manusia dalam daya tahan, tetapi juga mulai mendekati performa sprint pada nomor jarak pendek.
Meski jarak kecepatan dan kelincahan masih terus diuji, lomba di Beijing memperlihatkan bahwa robot humanoid kini tidak lagi dipandang hanya karena bentuknya yang menyerupai manusia. Yang lebih menonjol adalah kemampuan fisiknya yang kian dekat dengan capaian yang sebelumnya dianggap sulit dijangkau mesin.





