Rp 35,14 Triliun Mengalir ke Pemegang Saham Bank Mandiri, Dividen Final Masuk Rekening 25 Mei 2026

Bank Mandiri mulai menyalurkan dividen final tahun buku 2025 kepada pemegang saham pada Senin, 25 Mei 2026. Total dana yang mengalir mencapai Rp 35,14 triliun dan menjadi salah satu pembagian keuntungan terbesar dari emiten perbankan pelat merah.

Bagi investor ritel, pembagian itu berarti Rp 376,95 per saham atau setara Rp 37.695 per lot. Dana tersebut masuk ke rekening investor yang namanya tercatat dalam daftar berhak menerima dividen final.

Pembagian dividen final itu membuat total dividen Bank Mandiri untuk tahun buku 2025 naik menjadi Rp 44,47 triliun. Nilai tersebut setara 79 persen dari laba bersih perseroan yang mencapai Rp 56,3 triliun.

Sebelumnya, perseroan telah menyalurkan dividen interim sebesar Rp 9,32 triliun pada 14 Januari 2026. Saat itu, setiap saham mendapat Rp 100, sehingga total dividen per saham atau DPS BMRI untuk tahun buku 2025 akhirnya menjadi Rp 476,95 per saham.

Angka DPS itu juga lebih tinggi dibanding periode sebelumnya yang berada di level Rp 466,18 per saham. Kenaikan ini menunjukkan Bank Mandiri masih mempertahankan pola pembagian keuntungan yang kuat kepada pemegang saham.

Hak atas dividen final diberikan kepada investor yang tercatat dalam recording date hingga 12 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Artinya, hanya pemegang saham yang masuk daftar pada tanggal tersebut yang berhak menerima pembayaran.

Minat pasar terhadap saham BMRI ikut terlihat menjelang pembagian dividen. Pada perdagangan cum date di pasar reguler dan negosiasi pada 8 Mei 2026, saham BMRI ditutup di level Rp 4.630 per saham.

Berdasarkan harga penutupan itu dan dividen final Rp 376,95 per saham, yield dividen berada di kisaran 8,14 persen. Saat recording date pada 12 Mei 2026, harga saham BMRI berada di Rp 4.240 per saham dan yield dividen tercatat menyentuh 8,89 persen.

Pembagian dividen jumbo ini juga ditopang kinerja Bank Mandiri yang tetap solid pada kuartal I 2026. Laba bersih konsolidasi perseroan menembus Rp 15,4 triliun, tumbuh 16,6 persen secara tahunan.

Dari sisi profitabilitas, return on equity Bank Mandiri berada di level 22,1 persen. Modal perseroan juga kuat dengan capital adequacy ratio sebesar 19,7 persen.

Kinerja intermediasi ikut menguat sepanjang periode tersebut. Penyaluran kredit naik 17,4 persen secara tahunan menjadi Rp 1.530 triliun, sementara dana pihak ketiga tumbuh 21,1 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 1.675 triliun per Maret 2026.

Di tengah ekspansi itu, kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga. Rasio non-performing loan gross tercatat 0,98 persen, yang menunjukkan risiko kredit masih berada pada level rendah.

Selain dividen, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Bank Mandiri juga menyetujui aksi buyback saham. Anggaran yang disiapkan mencapai maksimal Rp 1,17 triliun dan pelaksanaannya berlangsung hingga 29 April 2027.

Saham hasil buyback akan dialokasikan sebagai treasury stock. Penggunaannya ditujukan untuk program kepemilikan saham bagi karyawan, direksi, dan komisaris non-independen sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Baca Juga

Back to top button