Tekanan terhadap rupiah masih datang dari dua arah sekaligus pada perdagangan Jumat pagi. Mata uang Garuda sempat terseret melewati batas Rp14.000 per 1 dolar Singapura, sementara dolar AS juga kembali menguat di pasar.
Di awal sesi, rupiah memang sempat bergerak lebih baik, tetapi ruang penguatannya cepat menyempit. Kondisi itu membuat pelemahan harian rupiah tetap terasa, terutama ketika dua mata uang besar sama-sama menunjukkan tenaga yang kuat.
Dolar Singapura kembali jadi penekan
Pergerakan dolar Singapura berlangsung agresif sejak awal perdagangan dan sempat membawa kursnya terhadap rupiah ke rentang Rp13.932 hingga Rp14.001. Pada titik tertentu, level psikologis Rp14.000 per 1 SGD kembali tersentuh sebelum rupiah membaik tipis.
Data Tradingview mencatat rupiah sempat melemah cukup dalam terhadap dolar Singapura. Pada pukul 09.51 WIB, posisi rupiah berangsur membaik ke Rp13.982, namun tekanan yang muncul sejak pembukaan pasar menunjukkan bahwa pergerakan masih rapuh.
Kenaikan dolar Singapura juga bukan sekadar gejolak sesaat. Sejak awal tahun 2026, mata uang itu tercatat menguat 7,34% terhadap rupiah berdasarkan perhitungan year-to-date.
Dolar AS ikut menahan pergerakan rupiah
Saat tekanan dari dolar Singapura belum mereda, rupiah juga kehilangan pijakan terhadap dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan greenback menguat 0,11% ke level Rp17.864 pada pukul 09.55 WIB.
Sebelum itu, pasar sempat melihat pergerakan yang sedikit lebih bersahabat bagi rupiah. Dolar AS sempat turun ke Rp17.836,5, lebih baik dibanding penutupan Kamis (28/5/2026) di level Rp17.845.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Dalam hitungan jam setelah pembukaan, arah pergerakan kembali berubah dan rupiah tertekan lagi oleh dolar AS yang masih menunjukkan kecenderungan kuat.
Tekanan harian masih sulit diredam
Untuk perdagangan hari ini, dolar AS diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.813 hingga Rp17.837. Meski rentang itu memberi gambaran adanya ruang gerak terbatas, posisi rupiah secara umum masih terlihat rentan.
Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat melemah 6,93% terhadap dolar AS. Data itu menegaskan bahwa tekanan yang dihadapi bukan hanya berasal dari pergerakan harian, tetapi juga dari tren yang masih berat sejak awal tahun.
Kombinasi penguatan dolar AS dan dolar Singapura membuat sentimen terhadap rupiah tetap mudah berubah. Selama pasar belum mendapat dorongan baru yang cukup kuat, volatilitas harian masih berpeluang mewarnai perdagangan rupiah dalam sesi-sesi berikutnya.
Source: www.suara.com




