Rupiah Ikut Tertekan Saat IHSG Kembali Keok di Bawah 7.000, Asing Masih Jual Rp49,87 Triliun

Tekanan di pasar saham dan nilai tukar kembali terasa kuat ketika IHSG ditutup di bawah 7.000 pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Pada saat yang sama, rupiah juga melemah ke Rp 17.378 per dolar AS berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia, sehingga pasar menghadapi tekanan berlapis dari dua arah sekaligus.

Sentimen jual yang belum mereda membuat investor asing kembali mencatat aksi jual bersih Rp 1,48 triliun pada hari itu. Sepanjang 2026, akumulasi net sell asing sudah mencapai Rp 49,874 triliun, menunjukkan arus keluar modal masih menjadi beban utama bagi pasar saham domestik.

IHSG akhirnya parkir di level 6.956,80 atau turun 2,03 persen. Sebelumnya, indeks sempat menyentuh titik terendah 6.876 setelah dibuka di 7.103, lalu bergerak melemah sepanjang sesi hingga penutupan.

Pasar melemah serentak dalam sepekan

Data BEI untuk periode 27–30 April 2026 memperlihatkan hampir seluruh indikator utama pasar berada di zona negatif. Dalam sepekan, IHSG turun 2,42 persen dari 7.129,490 menjadi 6.956,804, sementara frekuensi transaksi harian ikut menyusut 15,02 persen menjadi 2,34 juta kali transaksi.

Penyusutan aktivitas itu menunjukkan minat transaksi ikut tertahan saat tekanan jual meningkat. Kondisi tersebut juga terlihat pada volume perdagangan harian yang turun 17,32 persen menjadi 37,11 miliar lembar saham.

Kapitalisasi pasar BEI pun menyusut 2,78 persen dalam sepekan terakhir menjadi Rp 12.382 triliun. Kombinasi pelemahan indeks, turunnya volume, dan merosotnya frekuensi transaksi menandakan likuiditas pasar ikut menipis di tengah sentimen yang belum pulih.

Tekanan teknikal masih terbuka

Dari sisi pergerakan harga, tekanan jual yang muncul sejak pembukaan memperlihatkan pasar belum menemukan penyangga yang kuat. Pola pelemahan yang berlangsung hingga penutupan membuat posisi IHSG tetap rentan pada sesi berikutnya.

MNC Sekuritas menilai IHSG masih berisiko menguji area support lanjutan di rentang 6.645 hingga 6.838 pada awal Mei. Level itu menjadi perhatian pasar karena pelemahan terakhir masih belum memberi tanda pembalikan yang meyakinkan.

Sorotan juga datang dari sisi fiskal dan kredit

Di luar pasar saham, kekhawatiran pelaku pasar turut dipicu oleh proyeksi beban bunga utang Indonesia. Strategic and Economic Action Institution atau ISEAI memperkirakan beban bunga utang pada 2026 mencapai Rp 599,44 triliun, dengan rasio 22,27 persen dari total pendapatan perpajakan negara.

Sektor perbankan juga masih menyimpan perhatian melalui data kredit menganggur atau undisbursed loan. Hingga Maret 2026, nilainya tercatat Rp 2.527,46 triliun dan menambah sorotan terhadap kondisi likuiditas serta penyaluran kredit.

Di tengah tekanan pasar yang belum mereda, BEI bersama OJK dan pemerintah meresmikan program PINTAR Reksa Dana pada Senin, 27 April 2026. Program itu diarahkan untuk meningkatkan partisipasi investor ritel ketika pasar masih dibayangi kekhawatiran atas arah ekonomi dan fiskal.

Baca Juga

Back to top button