Di atas kapal induk USS Gerald R. Ford, persoalan yang paling terasa bagi ribuan awaknya bukan hanya operasi militer, melainkan juga urusan sanitasi harian. Selama penugasan yang sudah mendekati 10 bulan di laut, banyak personel harus menghadapi antrean untuk menggunakan toilet akibat gangguan pada sistem pembuangan kapal.
Kondisi itu muncul di tengah misi panjang yang membuat kapal perang terbesar milik Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut terus berada jauh dari pangkalan asal. Hingga April 2026, USS Gerald R. Ford telah beroperasi selama 297 hari sejak meninggalkan Naval Station Norfolk, Virginia, pada Juni 2025.
Penugasan yang berlarut dan beban di dalam kapal
Selama misi itu berlangsung, lebih dari 4.000 personel berada di atas kapal. Jumlah awak yang besar dalam ruang tertutup membuat gangguan kecil di fasilitas dasar cepat berubah menjadi masalah yang memengaruhi rutinitas harian.
Salah satu dampak yang paling menonjol adalah antrean untuk menggunakan toilet. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya sistem sanitasi di kapal induk, terutama ketika operasi berjalan dalam durasi sangat panjang.
USS Gerald R. Ford juga sudah dua kali mendapat perpanjangan misi sejak berangkat. Akibatnya, masa operasinya terus bertambah dari rencana awal dan menjadikan penugasannya mendekati pola operasi era Perang Vietnam, saat kapal induk bisa bertahan di laut lebih dari 300 hari.
Berpindah dari Karibia ke Timur Tengah
Selama penugasan, kapal ini tidak hanya berada di satu kawasan. USS Gerald R. Ford berpindah dari Karibia ke Timur Tengah untuk mendukung kepentingan strategis Amerika Serikat di beberapa titik sekaligus.
Di Karibia, kapal induk tersebut ikut dalam operasi terhadap tanker minyak yang dikenai sanksi. Kapal itu juga berada di kawasan tersebut saat berlangsung operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Setelah itu, USS Gerald R. Ford dialihkan ke Timur Tengah untuk memperkuat kehadiran militer AS. Di wilayah tersebut, kapal ini turut mendukung operasi udara intensif terhadap target militer Iran.
Tekanan teknis ikut meningkat
Mobilitas lintas kawasan membuat USS Gerald R. Ford menjadi simbol proyeksi kekuatan militer AS. Namun, penugasan yang panjang juga meningkatkan risiko teknis karena seluruh sistem kapal harus terus bekerja dalam tempo tinggi.
Menurut laporan Business Insider, salah satu gangguan yang menonjol adalah kebakaran di area laundry pada Maret. Insiden itu melukai dua awak dan merusak fasilitas tempat tidur di kapal.
Masalah lain muncul pada sistem sanitasi. Lebih dari 4.000 awak dilaporkan mengalami gangguan berulang pada toilet dan saluran pembuangan sejak awal penugasan berlangsung.
Gangguan tersebut bahkan membuat kapal sempat ditarik ke pelabuhan di Laut Mediterania untuk perbaikan. Meski begitu, USS Gerald R. Ford tetap dinyatakan dalam kondisi operasional.
Beban mental dan fisik para awak
Masalah toilet di kapal induk itu memperlihatkan sisi lain dari operasi militer jarak jauh. Dalam lingkungan yang padat dan tertutup, persoalan sanitasi bisa segera berubah menjadi gangguan yang memengaruhi kenyamanan, kebersihan, dan ritme kerja sehari-hari.
Senator AS Tim Kaine menilai penugasan panjang memberi tekanan besar karena para awak harus berbulan-bulan jauh dari keluarga. Ia menyebut kondisi itu berdampak serius pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.
Komandan gugus tempur kapal induk, Paul Lanzilotta, juga menyoroti beban yang sama. Ia mengatakan kelelahan menjadi faktor utama dalam misi seperti ini dan mengakui bahwa waktu jauh dari rumah sangat berat bagi para pelaut.
Di tengah misi strategis yang terus berjalan, USS Gerald R. Ford tetap menghadapi tantangan dari berbagai sisi, mulai dari beban operasional, gangguan teknis, hingga persoalan dasar seperti sanitasi yang dirasakan langsung oleh ribuan awak di dalamnya.
Source: www.suara.com




