Di tengah ancaman abrasi yang terus menggerus pesisir Jawa Tengah, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen memilih jalur yang tidak biasa untuk menguatkan kesadaran lingkungan: melibatkan santri langsung di garis pantai. Langkah itu terlihat di Pantai Desa Temperak, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, ketika ratusan santri Pondok Pesantren Al-Anwar IV ikut menanam mangrove, cemara, dan ketapang.
Aksi tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di balik kegiatan tanam pohon itu, ada pesan yang lebih besar, yakni pelestarian pesisir tidak bisa hanya ditumpukan kepada pemerintah.
Taj Yasin menekankan bahwa menjaga lingkungan memerlukan keterlibatan banyak pihak. Ia juga mengingatkan bahwa pesisir Jawa Tengah banyak terdampak abrasi, sehingga edukasi dan aksi nyata harus terus dilakukan, termasuk melalui pesantren.
Menurut dia, waktu untuk bergerak tidak banyak jika bibir pantai di Jawa Tengah ingin diselamatkan. Karena itu, perlindungan pesisir tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi gerakan yang berjalan konsisten.
Pesantren didorong menjadi penggerak
Kegiatan di Rembang itu juga masuk dalam program Mageri Segoro yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk rehabilitasi kawasan pesisir, tetapi juga untuk membentuk budaya menjaga lingkungan di tengah masyarakat.
Pemprov Jateng berharap lebih banyak pondok pesantren ikut terlibat dalam aksi serupa. Kolaborasi antarpesantren dinilai dapat memperkuat kepedulian terhadap ekologi sekaligus melahirkan generasi yang peka pada isu lingkungan.
Taj Yasin juga melihat kerja sama itu bisa memperluas rasa cinta terhadap lingkungan hidup. Karena itu, ia mendorong pondok-pondok pesantren untuk saling berkolaborasi agar kepedulian ekologis tumbuh lebih kuat di lingkungan pendidikan keagamaan.
Santri turun ke lumpur
Di lokasi kegiatan, para santri tampak mengikuti penanaman dengan antusias meski harus berjalan di area berlumpur dan berada di bawah terik matahari. Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menjadi hal baru yang meninggalkan kesan mendalam.
Konita Tunada, salah satu santri peserta kegiatan, mengaku senang bisa terlibat langsung bersama teman-temannya menjelang kelulusan. Ia menyebut kegiatan tersebut seru karena memberi pengalaman baru sekaligus menjadi momen kebersamaan dengan teman satu angkatan.
Sedikitnya 400 bibit mangrove, 50 pohon cemara, dan 200 pohon ketapang ditanam dalam kegiatan tersebut. Tanaman-tanaman itu diharapkan menjadi benteng alami yang membantu melindungi garis pantai dari abrasi dan menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Aksi tanam di Rembang memperlihatkan bahwa upaya melawan abrasi tidak cukup mengandalkan perangkat teknis di pesisir. Keterlibatan santri dan pesantren memberi lapisan baru dalam gerakan lingkungan, sekaligus menghubungkan pendidikan karakter dengan perlindungan alam.
Source: koran-jakarta.com




