Banyak kisah kurban di Jawa Barat tahun ini berakhir bukan di tempat penyembelihan, melainkan di kebun, hutan, hingga area pelayanan publik. Dari Tasikmalaya sampai Sukabumi, sapi-sapi yang lepas kendali itu membuat panitia dan warga harus bergerak cepat untuk mencegah situasi makin kacau.
Di beberapa lokasi, hewan kurban bahkan sempat menyeruduk warga, merusak fasilitas, dan memaksa pengejaran berlangsung berjam-jam. Ada yang hanya bisa dilumpuhkan setelah lari jauh ke perkebunan, ada pula yang baru berhasil ditemukan keesokan paginya di tepi sungai dengan arus deras.
Dari lahan kosong Bandung sampai area SIM Sumedang
Di Kota Bandung, kepanikan muncul di RT 01 RW 04, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap. Seekor sapi putih mengamuk saat hendak disembelih sekitar pukul 10.30 WIB, lalu menyerang kerumunan warga dan menyebabkan dua orang mengalami luka ringan.
Lurah Ledeng Andhika Satrya menjelaskan bahwa penyembelihan dilakukan di lahan kosong sehingga tidak mengganggu permukiman. Ia juga menyebut sapi langsung dibius ketika mulai mengamuk agar situasi cepat terkendali.
Di Kabupaten Sumedang, suasana tak kalah tegang terjadi saat sapi kurban pemberian Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir hampir masuk ke area pelayanan pembuatan SIM dan BPKB Satlantas Polres Sumedang. Dalam peristiwa itu, satu tukang jagal bernama Bulat mengalami luka ringan di tangan.
Keributan juga membuat sejumlah fasilitas berserakan, termasuk tiang pembatas jalur ujian SIM. Meski begitu, sapi berhasil ditenangkan sebelum benar-benar masuk ke area pelayanan, dan petugas menyebut kerusakan hanya terjadi pada jalur lalu lintas di lapang uji SIM.
Tasikmalaya jadi lokasi lari paling jauh
Insiden paling jauh tercatat di Kampung Cipatangga, Desa Puspasari, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Seekor sapi mendadak mengamuk saat hendak diturunkan dari mobil bak terbuka, lalu kabur sejauh 4 kilometer dan masuk ke area perkebunan.
Warga yang mencoba mengejar justru diseruduk hingga beberapa orang terjatuh dan nyaris terluka. Perburuan berlangsung dramatis sebelum hewan itu akhirnya berhasil dilumpuhkan.
Panitia menyebut sapi itu tak bisa melangkah lebih jauh karena masuk ke kebun dengan kontur tanah miring. Di wilayah yang sama, kejadian serupa juga terjadi di Kampung Padaluyu, Desa Puspahiang, ketika seekor sapi cokelat meronta berulang kali saat hendak disembelih.
Sapi tersebut hampir menendang warga di sekitarnya sebelum panitia menarik tali di bagian kaki hingga hewan itu jatuh. Bagi warga sekitar, suasana seperti itu rupanya bukan hal asing lagi saat Idul Adha, meski tetap sempat memicu kepanikan.
Sapi besar butuh tenaga ekstra sampai ke hutan
Di Kota Sukabumi, perhatian warga tertuju pada sapi bernama Predator, bantuan kemasyarakatan dari Presiden RI Prabowo Subianto. Sapi jenis simental berbobot sekitar 1,2 ton itu diserahkan ke Pondok Pesantren Miftahussa’adah di Cigunung, Kecamatan Warudoyong.
Karena ukurannya sangat besar, penyembelihannya membutuhkan tenaga ekstra. Tiga petugas jagal dibantu tujuh santri harus menarik tali tambang di bagian kaki untuk melumpuhkan hewan tersebut, dan pimpinan pondok pesantren H Ismatullah menyebut prosesnya ditangani orang yang profesional.
Di wilayah lain Sukabumi, situasinya justru jauh lebih melelahkan. Di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kabandungan, seekor sapi kurban besar mengamuk lalu lari ke hutan dan semak belukar pada Selasa sore.
Pencarian berlangsung semalaman dengan bantuan senter di area hutan yang minim penerangan. Warga dan panitia harus membuka jalan di antara rerumputan liar yang tingginya sampai dada orang dewasa.
Sapi itu akhirnya ditemukan keesokan paginya di area sungai berarus deras. Hewan tersebut bersembunyi di balik semak-semak lebat di tebing bibir Sungai Citarik sebelum dipindahkan dan disembelih di lokasi penemuan.
Proses penangkapan pun tidak mudah karena warga harus menyeberangi sungai berbatu dengan arus sangat deras. Beberapa pria bahkan turun ke air menggunakan tongkat bambu untuk menahan hantaman arus saat mencoba mengamankan sapi tersebut.
Source: www.detik.com




