Pemadaman listrik massal di Sumatera memunculkan pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar penyebab awal gangguan di jalur transmisi. Sorotan kini tertuju pada mengapa satu masalah di satu ruas bisa merambat luas dan membuat wilayah yang jauh lebih besar ikut gelap.
Di tengah situasi itu, sistem proteksi PLN menjadi titik tanya utama. Jika proteksi bekerja sesuai rancangan, gangguan seharusnya bisa dibatasi di titik awal sebelum menjalar ke jaringan lain.
CEO Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menilai ada aspek teknis yang belum terjelaskan dari peristiwa tersebut. Ia menyebut penjelasan awal soal cuaca buruk atau petir di jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai memang bisa diterima sebagai informasi awal, tetapi belum menjawab mengapa dampaknya meluas.
Menurut Fabby, investigasi tidak boleh berhenti pada pemicu pertama. Rantai gangguan perlu ditelusuri sampai jelas, termasuk apakah ada kegagalan dalam proteksi jaringan listrik yang seharusnya bergerak sangat cepat.
Proteksi seharusnya memutus gangguan dalam hitungan milidetik
Dalam sistem kelistrikan, proteksi idealnya mendeteksi anomali lalu mengisolasi titik bermasalah secepat mungkin. Dengan begitu, arus gangguan tidak menjalar ke bagian jaringan yang masih sehat.
Fabby menjelaskan bahwa dalam hitungan milidetik, sistem seharusnya sudah mengenali gangguan dan memisahkannya dari jaringan lain. Karena itu, pemadaman yang meluas justru menimbulkan pertanyaan tentang proteksi, transmisi, atau skema pengamanan sistem.
Skema seperti ini memang dirancang agar gangguan di satu konduktor atau satu ruas transmisi tidak otomatis menjatuhkan sistem yang lebih besar. Jika blackout tetap meluas, berarti ada lapisan pengamanan yang patut diperiksa ulang.
Faktor teknis yang masih harus dibuka
Fabby menyebut penyebab langsung pemadaman kemungkinan berkaitan dengan terputus atau terganggunya konduktor transmisi 275 kV Sungai Rumbai–Muara Bungo. Dari sana, gangguan diduga memicu pemadaman di wilayah Sumatera bagian utara dan tengah sekitar pukul 18.44 WIB.
Namun, ia menilai dugaan itu belum cukup untuk menjelaskan besarnya skala pemadaman. Sejumlah kemungkinan lain tetap perlu diperiksa, mulai dari kerusakan perangkat, gangguan transmisi, kelebihan beban, hingga kegagalan sistem proteksi atau defense system.
Ia juga membuka kemungkinan adanya overload atau proteksi trip yang ikut berperan. Karena itu, urutan kejadian perlu ditelusuri secara lengkap agar penyebab teknisnya tidak berhenti di level dugaan awal.
Mengapa gangguan di satu jalur tidak seharusnya menjatuhkan sistem luas
Dalam prinsip keandalan pasokan, jaringan listrik mesti tetap mengalir meski satu jalur terganggu. Karena itu, jaringan transmisi umumnya memiliki jalur alternatif agar gangguan tidak langsung memutus pasokan secara luas.
Fabby mencontohkan, bila skema ini diterapkan pada jalur transmisi, maka listrik masih bisa mengalir lewat jalur lain saat satu jalur mengalami gangguan. Ia menyebut sistem di Pulau Jawa memiliki dua jalur utama, yakni utara 150 kV dan selatan 500 kV, sehingga gangguan di satu sisi masih dapat diantisipasi oleh sisi lainnya.
Dari situ, pemadaman besar di Sumatera membuat efektivitas pemisahan gangguan kembali dipertanyakan. Jaringan yang dirancang untuk menahan dampak lokal justru tampak tidak berhasil membatasi masalah pada satu area.
Evaluasi harus menyentuh skema pengamanan utuh
Fabby menegaskan pemeriksaan teknis perlu mencakup kemungkinan kegagalan skema defense system yang membuat gangguan tidak tertahan di satu titik. Jika proteksi memang gagal, maka penilaian tidak cukup diarahkan hanya pada kondisi cuaca atau faktor alam.
Blackout skala besar menunjukkan bahwa pemisahan gangguan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Selama rangkaian kejadiannya belum dijelaskan secara detail, pertanyaan tentang efektivitas sistem proteksi PLN akan tetap menjadi pusat perhatian.
Source: www.beritasatu.com




