Isu Selat Hormuz kembali mencuat setelah Gedung Putih menyebut Donald Trump dan Xi Jinping berada dalam satu pandangan: jalur sempit itu harus tetap terbuka. Bagi pasar energi dunia, kesepahaman semacam ini penting karena gangguan kecil di Hormuz saja dapat memicu efek berantai pada distribusi minyak dan gas internasional.
Pernyataan Gedung Putih tersebut menegaskan bahwa keterbukaan selat itu dipandang sebagai syarat penting bagi kelancaran pasokan energi global. Hormuz memang berada di posisi yang sangat strategis karena menjadi lintasan utama bagi arus energi dari kawasan Teluk.
Hormuz dan kepentingan pasokan dunia
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam perdagangan minyak dan gas dunia. Jalur itu menjadi urat nadi bagi pengiriman energi, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut langsung menarik perhatian pelaku pasar dan pemerintah negara besar.
Sensitivitas itu makin tinggi setelah perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari. Di tengah konflik, Teheran menutup aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.
AS kemudian memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meski gencatan senjata mulai berlaku sejak 8 April. Rangkaian peristiwa itu membuat isu keamanan jalur energi kembali menempati posisi sentral dalam pembicaraan tingkat tinggi.
China berada di posisi paling rentan
Dari semua negara besar, China termasuk pihak yang paling terdampak bila jalur itu terganggu. Data perusahaan analis maritim Kpler menunjukkan lebih dari setengah impor minyak mentah China yang dikirim lewat jalur laut berasal dari Timur Tengah dan mayoritas melewati Selat Hormuz.
Kondisi itu menjelaskan mengapa Beijing memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan tersebut. Jika pelayaran di Hormuz terganggu, pasokan energi China bisa ikut tertekan dan ruang gerak perdagangan maritimnya menyempit.
Gedung Putih juga mengatakan Xi menunjukkan minat untuk membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat. Klaim tersebut disebut dapat membantu mengurangi ketergantungan China pada jalur Hormuz, meski tidak muncul dalam pernyataan resmi Beijing.
Pertemuan di Beijing ikut membawa isu yang lebih luas
Trump dan Xi bertemu di Aula Besar Rakyat, Beijing, dalam kunjungan kenegaraan Trump yang sempat tertunda. Lawatan itu disebut sebagai kunjungan pertama Presiden AS ke China dalam satu dekade terakhir dan disambut Xi dengan karpet merah serta seremoni kenegaraan.
Gedung Putih menyebut pertemuan berlangsung dengan baik dan membuka peluang untuk memperkuat kerja sama ekonomi. Dalam keterangannya, pemerintah AS juga mengatakan kedua pemimpin membahas cara mempererat hubungan ekonomi di tengah ketegangan yang masih tersisa.
Pemerintah China tidak menyinggung kesepakatan soal Hormuz dalam pernyataan resminya. Kementerian Luar Negeri China hanya menyebut kedua kepala negara bertukar pandangan mengenai isu internasional dan regional utama, termasuk Timur Tengah, krisis Ukraina, dan Semenanjung Korea.
Bayang-bayang Taiwan tetap hadir
Selain energi dan ekonomi, pembicaraan kedua pemimpin juga berada di bawah bayang-bayang isu Taiwan. Gedung Putih tidak menyinggung tema itu secara terbuka dalam ringkasan pembicaraan, tetapi media pemerintah China sebelumnya melaporkan bahwa Xi memberi peringatan kepada Trump soal potensi konflik jika persoalan Taiwan tidak ditangani hati-hati.
Xi menegaskan bahwa masalah Taiwan merupakan isu terpenting dalam hubungan China-AS. Ia juga menyebut penanganan yang keliru dapat membawa hubungan kedua negara ke situasi yang sangat berbahaya.
Dengan energi, ekonomi, dan keamanan regional sama-sama masuk dalam agenda, pertemuan Trump dan Xi menunjukkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik sensitif dalam diplomasi internasional. Bagi China, kelancaran jalur itu menentukan pasokan energi, sementara bagi AS dan mitranya, keterbukaan Hormuz menjadi syarat penting bagi stabilitas perdagangan global.
Source: www.suara.com




