Setelah Tuba Falopi Diangkat, Rifky Alhabsyi dan Yulia Akhirnya Menjadi Orang Tua Lewat IVF

Bagi Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani, kelahiran putra pertama mereka menjadi penanda berakhirnya perjalanan panjang yang tidak mudah. Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi lahir setelah pasangan ini menempuh program bayi tabung atau IVF dan melewati rangkaian penanganan medis yang panjang.

Keberhasilan itu menarik perhatian karena tidak terjadi dalam waktu singkat. Pasangan ini disebut menghadapi infertilitas selama hampir satu dekade sebelum akhirnya bisa menyambut anak yang telah lama dinanti.

Salah satu kunci dari perjalanan itu adalah kondisi kesehatan Yulia yang membuat kehamilan alami tidak lagi memungkinkan. Ia mengalami gangguan pada saluran reproduksi hingga menjalani operasi pengangkatan kedua tuba falopi atau salpingektomi.

Dengan kondisi tersebut, inseminasi maupun kehamilan alami tidak bisa menjadi pilihan. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa pada kasus tuba yang sudah tidak berfungsi, IVF menjadi jalan terbaik untuk memperoleh kehamilan.

Pasangan ini sebenarnya sudah mempertimbangkan program bayi tabung sejak 2022. Namun, mereka baru merasa siap secara mental untuk memulainya pada 2025 setelah melalui banyak pertimbangan dan pencarian referensi medis.

Sebelum menentukan tempat berobat, Rifky dan Yulia mencari pendapat dari banyak dokter. Mereka sempat berkonsultasi dengan tujuh dokter hingga satu profesor sebelum akhirnya memilih Smart Fertility Clinic.

Proses medis pun berjalan bertahap. Ovum Pick Up atau OPU dilakukan pada Februari 2025, lalu Frozen Embryo Transfer atau FET menyusul pada September 2025.

Dalam proses itu, hanya satu embrio yang berhasil berkembang hingga memicu kehamilan yang sehat. Menurut dr. Darma, perjuangan Rifky dan Yulia layak diapresiasi karena mereka tetap optimistis selama menjalani program.

Ia menegaskan bahwa kehamilan yang terjadi menjadi anugerah yang sangat berarti. Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan betapa panjang dan tidak sederhananya proses yang mereka lalui sebelum kabar bahagia itu datang.

Persalinan Yulia kemudian dilakukan di Primaya Evasari Hospital dengan pendampingan maternal terintegrasi. Rumah sakit tersebut menerapkan metode ERACS atau Enhanced Recovery After Cesarean Surgery yang dikombinasikan dengan TAP Block untuk membantu mengurangi nyeri setelah operasi dan mempercepat pemulihan.

Rifky menyebut momen kelahiran itu sangat berharga karena ia bisa mendampingi langsung sang istri. Ia juga menyampaikan rasa syukur karena perjalanan panjang mereka akhirnya berujung pada kelahiran buah hati yang dinanti.

Kisah ini memperlihatkan bahwa penanganan medis yang tepat dapat membuka peluang kehamilan, termasuk pada pasangan dengan kondisi reproduksi yang kompleks. Dukungan dokter, kesiapan mental, dan kerja sama pasangan menjadi bagian penting dari perjalanan Rifky dan Yulia menuju hadirnya Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button