Ambisi Zona Merah: Dead City tidak berhenti pada pasar film horor lokal. Proyek ini sejak awal diarahkan untuk punya jangkauan yang lebih luas, dengan strategi distribusi internasional yang mulai dibuka melalui jalur pembeli global.
Langkah itu membuat film ini menonjol di tengah padatnya persaingan horor. Modal utamanya bukan hanya teror zombie, tetapi juga identitas cerita yang sudah lebih dulu dikenal lewat serial Zona Merah.
Ancaman yang dibawa ke layar lebar
Serial Zona Merah sebelumnya dikenal lewat horor yang tidak sekadar mengandalkan jumpscare. Unsur “living corpse” menjadi pusat konflik, lalu berkembang bersama perebutan kuasa dan kekacauan sosial di kota fiktif Rimbalaya.
Versi filmnya memperbesar skala ancaman itu. Kota dalam cerita digambarkan sepenuhnya dikuasai infeksi, sehingga ruang gerak para karakter menjadi semakin sempit dan setiap keputusan terasa jauh lebih berisiko.
Tim lama tetap menjaga arah cerita
Di balik proyek ini, nama Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa kembali terlibat seperti saat menangani serial aslinya. Sidharta Tata juga kembali menulis naskah, sehingga kesinambungan visi dari serial ke film tetap dipertahankan.
Keterlibatan tim yang sama penting untuk adaptasi semacam ini. Peralihan dari serial ke film sering berisiko mengubah rasa cerita terlalu jauh, tetapi Zona Merah: Dead City mencoba menjaga karakter yang sudah terbentuk sebelumnya.
Pemain lama dan wajah baru
Sejumlah aktor dari serial kembali hadir, termasuk Aghniny Haque, Andri Mashadi, Maria Theodore, Devano Danendra, dan Lukman Sardi. Kehadiran mereka membantu menjaga kedekatan dengan penonton yang sudah mengikuti cerita sejak versi serial.
Film ini juga menambahkan deretan pemain baru seperti Luna Maya, Bryan Domani, Shindy Huang, Myesha Lin, dan Derby Romero. Kombinasi pemain lama dan baru membuka ruang bagi dinamika konflik dan hubungan antarkarakter yang lebih beragam.
Jalur global disiapkan sejak awal
Sisi internasional proyek ini terlihat dari penunjukan Barunson E&A sebagai agen penjualan internasional. Perusahaan asal Korea Selatan itu dikenal sebagai rumah produksi di balik film pemenang Oscar Parasite.
Melalui Barunson E&A, Zona Merah: Dead City akan diperkenalkan kepada pembeli global di Cannes Film Market. Di ajang itu, film ini akan berdampingan dengan sejumlah proyek Asia lain, termasuk Ghost in the Cell karya Joko Anwar.
Produksi masih berjalan, sorotan sudah datang
Syuting film ini dimulai sejak 7 April 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2026. Meski proses produksinya belum selesai, perhatian sudah mengarah ke proyek ini karena memadukan genre populer, properti lokal yang sudah dikenal, dan jalur distribusi yang menargetkan pasar luar negeri.
Dengan pendekatan seperti itu, Zona Merah: Dead City tidak hanya diposisikan sebagai film horor zombie. Proyek ini juga menjadi contoh bagaimana film genre Indonesia mulai disiapkan untuk bersaing di panggung yang lebih luas.
Source: lifestyle.bisnis.com




