Pergerakan rupiah masih berada dalam bayang-bayang sentimen global setelah ditutup menguat tipis ke level Rp 17.142 per dollar AS pada perdagangan Selasa (21/4/2026). Mata uang Indonesia naik 26 poin atau 0,15 persen, namun kenaikan itu belum cukup untuk menghilangkan sikap hati-hati pasar terhadap perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung menunggu arah yang lebih jelas sebelum mengambil posisi besar. Ketidakpastian geopolitik membuat rupiah tetap rentan, meski sejumlah faktor dari dalam negeri masih dinilai mampu menjaga kestabilannya.
Ketegangan AS-Iran masih jadi perhatian utama
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sumber ketidakpastian terbesar bagi pasar keuangan. Pasar disebut belum mendapat gambaran yang tegas mengenai kelanjutan pembicaraan damai kedua negara.
Ibrahim mengatakan, “Masa depan perang sebagian besar masih belum pasti, di tengah sinyal yang saling bertentangan tentang apakah pembicaraan damai AS-Iran lebih lanjut akan berlangsung.” Situasi ini membuat investor menempatkan risiko geopolitik sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.
Keraguan pasar ikut meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut kecil kemungkinan gencatan senjata diperpanjang. Di saat yang sama, pasar juga menyoroti insiden militer pada akhir pekan lalu ketika AS menembaki dan menangkap kapal berbendera Iran.
Kondisi seperti ini biasanya mendorong investor mencari aset yang lebih aman. Tekanan itu sering kali berdampak ke mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang sangat sensitif terhadap gejolak eksternal.
Dukungan domestik masih menjaga ruang stabilitas
Meski tekanan global masih kuat, faktor domestik Indonesia belum sepenuhnya kehilangan peran penopang. Ibrahim menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menghadapi situasi luar negeri yang tidak menentu.
Pemerintah disebut tetap menjaga pertumbuhan ekonomi sambil menyesuaikan kebijakan fiskal agar sejalan dengan target pembangunan yang produktif. Di saat bersamaan, dorongan terhadap investasi juga terus ditempuh untuk memperkuat ketahanan ekonomi.
Penyesuaian fiskal dianggap penting agar kebijakan di lapangan tetap mendukung perbaikan ekonomi yang berkelanjutan. Reformasi struktural yang sudah lama dijalankan Indonesia juga ikut memberi bantalan ketika tekanan global meningkat.
Menurut Ibrahim, langkah-langkah itu membantu menjaga ketahanan energi dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Instrumen APBN pun dinilai berperan meredam guncangan, terutama saat harga global bergejolak akibat konflik geopolitik.
Indikator makro masih memberi penopang
Dari sisi makroekonomi, Ibrahim menyebut inflasi domestik masih terjaga. Defisit fiskal juga berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB, sehingga kredibilitas makro-finansial Indonesia dinilai tetap solid.
Di tengah tekanan eksternal, pasar juga mencatat adanya arus keluar devisa senilai 1,8 miliar dollar AS. Namun, kondisi itu belum membuat prospek rupiah kehilangan seluruh ruang stabilitasnya.
Selama faktor domestik tetap terjaga, pelaku pasar masih melihat peluang rupiah bergerak relatif stabil. Karena itu, penguatan tipis yang terjadi sekarang lebih mencerminkan kombinasi antara dukungan internal dan tekanan global yang belum mereda.
Arah rupiah ke depan masih sangat ditentukan oleh perkembangan hubungan AS-Iran serta respons pasar terhadap risiko yang muncul dari konflik tersebut. Selama ketidakpastian itu belum mereda, rupiah diperkirakan tetap bergerak hati-hati di tengah sentimen eksternal yang menekan.





