Tekanan Global Makin Berat, Rupiah Kian Rawan Tembus Rp18.000

Tekanan terhadap rupiah belum mereda dan kini mata uang itu makin rapat ke batas psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah berada di level Rp17.965 per dolar AS setelah melemah 127 poin atau 0,71 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.839 per dolar AS.

Pergerakan itu terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global dan derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. Saat modal asing berkurang, permintaan terhadap dolar AS ikut menguat dan membuat rupiah semakin sulit mendapat ruang pemulihan.

Di pasar, pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Tekanan datang bersamaan dari sentimen global yang memburuk, terutama karena kenaikan harga minyak mentah dunia setelah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi tersebut menambah beban bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mencari aset yang lebih aman sehingga mata uang berisiko seperti rupiah ikut tertekan.

Sentimen hati-hati di pasar ekuitas juga memperburuk keadaan. Aksi jual investor asing atau net sell di pasar saham domestik ikut memicu capital outflow dan membuat posisi rupiah semakin rentan terhadap tekanan lanjutan.

Lukman menilai arus keluar modal asing menjadi faktor yang sangat menentukan karena langsung memengaruhi kebutuhan terhadap dolar AS. Saat investor asing melepas saham domestik, kebutuhan mereka terhadap rupiah menurun dan tekanan dolar menjadi lebih dominan di pasar.

Ia bahkan memperingatkan bahwa ruang penguatan rupiah dalam waktu dekat semakin sempit. Tanpa intervensi agresif dari Bank Indonesia, rupiah dinilai berpeluang menembus Rp18.000 per dolar AS.

“Sentimen risk-off besar di pasar ekuitas dan net sell asing juga ikut menekan rupiah. Dengan percepatan ini dan tanpa intervensi agresif dari BI, rupiah sangat berpotensi menembus Rp18.000 besok,” ujarnya.

Kondisi rupiah juga sejalan dengan pelemahan sejumlah mata uang Asia lainnya. Rupee India tercatat menjadi yang paling lemah dengan penurunan 0,52 persen, disusul rupiah yang turun 0,51 persen.

Di kawasan yang sama, ringgit Malaysia melemah 0,44 persen, baht Thailand turun 0,20 persen, won Korea Selatan terkoreksi 0,13 persen, yuan China melemah 0,06 persen, peso Filipina turun 0,05 persen, dan dolar Singapura turun 0,03 persen. Pergerakan serentak ini menunjukkan tekanan yang datang bukan hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari kekhawatiran global yang membuat investor lebih berhati-hati.

Bagi pasar domestik, kombinasi sentimen risk-off, kenaikan harga minyak, dan keluarnya dana asing menjadi sinyal bahwa tekanan pada rupiah belum selesai. Perhatian kini tertuju pada langkah stabilisasi otoritas moneter untuk menahan rupiah agar tidak semakin dekat ke level Rp18.000 per dolar AS.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button