Tekanan biaya di marketplace kembali menjadi sorotan setelah larangan Menteri UMKM Maman Abdurrahman terhadap kenaikan beban seller memunculkan perbandingan langsung antara TikTok Shop dan Shopee. Dalam catatan yang dibahas, TikTok Shop tercatat lebih sering mengubah biaya seller, sehingga perhatian pelaku usaha kini banyak tertuju pada platform itu.
Bagi penjual, persoalan ini bukan hanya soal angka di halaman kebijakan. Setiap perubahan bisa langsung menggerus margin karena biaya layanan, komisi, logistik, hingga retur dan refund dapat berjalan bersamaan dalam satu transaksi.
TikTok Shop paling agresif menyesuaikan biaya
Dalam periode yang dicatat hingga pertengahan 2026, TikTok Shop tercatat melakukan tiga kali penyesuaian biaya seller. Shopee pada periode yang sama tercatat dua kali menyesuaikan biaya.
Salah satu perubahan TikTok Shop yang paling disorot adalah biaya layanan logistik yang mulai berlaku 1 Mei 2026. Besarannya bergantung pada asal dan tujuan pengiriman serta berat paket, dengan kisaran Rp690 hingga Rp5.060.
Para seller memprotes kebijakan itu karena sebelumnya sempat disebut maksimal Rp3.000 sebelum angka akhirnya berubah mendekati pelaksanaan kebijakan. Perubahan seperti ini membuat penjual harus menghitung ulang biaya jualan dalam waktu singkat.
Komisi dinamis ikut naik tajam
TikTok Shop juga mengubah biaya komisi dinamis per 18 Mei 2026. Kebijakan itu berlaku untuk seluruh penjual di Indonesia dan dihitung berdasarkan harga produk, lalu dikenakan pada pesanan yang berhasil dikirim.
Sebelum 18 Mei 2026, batas maksimal komisi berada di Rp40.000 per item. Setelah kebijakan baru berjalan, batas maksimal naik 15 kali lipat menjadi Rp650.000 per item.
Sebagai ilustrasi, pada kategori Pakaian & Sepatu Wanita dengan harga Rp1 juta, skema lama menghitung tarif 5,50% atau Rp55.000. Namun, potongan yang diambil tetap Rp40.000 karena ada batas maksimal.
Setelah perubahan, tarif menjadi 8,00% atau Rp80.000. Dalam skema baru itu, seluruh nominal dipotong karena belum melewati batas maksimal baru.
Retur dan refund menambah beban seller
Beban penjual di TikTok Shop tidak berhenti pada biaya komisi. Pada 1 Juni 2026, platform itu juga menerapkan biaya pengiriman untuk pengembalian barang dan dana, termasuk saat terjadi kegagalan pengiriman.
Penjual bisa dikenakan hingga Rp5.000 untuk biaya pengiriman ke pembeli karena pengiriman yang gagal. Selain itu, ada biaya pengembalian barang atau dana hingga Rp5.000 per pengiriman jika kesalahan berada di pihak pembeli.
Dengan skema itu, total biaya yang bisa ditanggung seller mencapai Rp10.000. Bagi pedagang dengan margin tipis, tambahan biaya seperti ini terasa langsung pada hasil penjualan harian.
Shopee ikut menyesuaikan, tetapi lebih jarang
Shopee juga mencatat penyesuaian biaya hingga pertengahan tahun ini, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibanding TikTok Shop. Salah satunya adalah kenaikan biaya administrasi yang diumumkan melalui laman resmi Seller Shopee dan berlaku mulai Januari 2026.
Dalam pengumuman itu, Shopee menyebut struktur biaya untuk tiap kategori produk mengalami penyesuaian. Beberapa kategori seperti FMCG, barang kebutuhan sehari-hari, serta produk fesyen tertentu dikenakan biaya administrasi tertinggi, yakni 10% dari harga jual.
Ada pula kategori lain yang mendapat beban lebih ringan, seperti perlengkapan bayi tertentu, susu formula, makanan bayi non-vitamin, produk bayi dan anak, serta vitamin atau suplemen bayi, dengan tarif sekitar 6,5%–6,75%. Di kelompok menengah masuk aksesori fesyen, jam tangan, tas pria/wanita, produk perawatan diri dan kulit, popok, serta fesyen bayi-anak.
Shopee juga memberi ilustrasi pada produk pre-order. Jika harga asli Rp50.000 lalu diberi diskon Rp5.000 dan voucher Rp5.000, maka pembayaran pembeli menjadi Rp40.000.
Dari nilai itu, biaya layanan dihitung 3% atau Rp1.200 dan dipotong otomatis setelah pesanan selesai. Skema ini menunjukkan bagaimana ongkos platform tetap hadir meski pembeli mendapat potongan harga.
Program Gratis Ongkir Ekstra juga berubah
Penyesuaian lain dari Shopee terjadi pada program Gratis Ongkir Ekstra yang mulai berlaku 2 Mei 2026. Kebijakan ini mengubah skema biaya layanan berbasis klasifikasi ukuran produk sekaligus mengatur insentif bagi seller.
Shopee membagi produk menjadi dua kategori, yaitu ukuran biasa dan ukuran khusus. Produk ukuran biasa adalah barang dengan berat di bawah 5 kilogram, dimensi maksimal 60 cm, serta volume tidak lebih dari 20.000 cm³.
Sementara itu, produk ukuran khusus mencakup barang dengan berat minimal 5 kilogram atau yang memiliki dimensi maupun volume di atas batas tersebut. Klasifikasi ini menentukan besaran biaya layanan dalam program yang sifatnya opsional itu.
Sebelum perubahan, biaya layanan berada di angka 6% dengan maksimum Rp40.000 per produk. Setelah pembaruan, tarif produk ukuran biasa naik menjadi 8% dengan maksimum tetap Rp40.000, sedangkan produk ukuran khusus dikenakan 9,5% dengan maksimum Rp60.000 per produk.
Perbandingan itu membuat TikTok Shop terlihat lebih sering melakukan penyesuaian biaya seller dibanding Shopee dalam periode yang dicatat. Di tengah tekanan biaya yang terus bertambah, larangan Menteri UMKM terhadap kenaikan beban seller menjadi isu yang makin penting bagi pedagang yang bergantung pada marketplace.
Source: teknologi.bisnis.com




