Trump Buka Pintu Perundingan dengan Iran, Pertemuan Langsung dengan Mojtaba Khamenei Mungkin Terjadi

Donald Trump kembali membuka pintu untuk pembicaraan yang lebih jauh dengan Iran, termasuk kemungkinan bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi baru negara itu, Mojtaba Khamenei. Sinyal tersebut muncul di tengah perundingan yang menurut Trump sudah bergerak ke arah kesepahaman soal larangan Iran memiliki senjata nuklir.

Pernyataan itu menarik perhatian karena datang saat hubungan Washington dan Teheran masih diwarnai ketegangan panjang. Namun, Trump memberi kesan bahwa jalur diplomasi belum tertutup selama tujuan utamanya tercapai.

Dalam wawancara podcast Pod Force One yang dirilis pada Rabu, 3 Juni waktu setempat, Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir. Ia menilai pembicaraan yang sedang berjalan dapat berkembang menjadi kesepakatan yang lebih besar.

Trump menyebut poin utama negosiasi itu sudah mengarah pada larangan Iran memiliki senjata nuklir. Meski demikian, ia menegaskan pembicaraan belum selesai dan prosesnya masih berjalan.

Sikap itu menunjukkan bahwa Washington masih memberi ruang bagi penyelesaian melalui diplomasi. Di saat yang sama, Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki opsi lain bila kesepakatan gagal dicapai.

Mojtaba Khamenei ikut masuk dalam pembicaraan

Nama Mojtaba Khamenei ikut disebut Trump dalam konteks perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ia mengatakan pihak-pihak terkait menghormati pemimpin tertinggi Iran yang baru itu dan menganggap perannya penting dalam proses yang sedang berlangsung.

Trump juga menyebut Mojtaba tidak dalam kondisi yang terlalu baik, tetapi tetap menyetujui jalannya pembicaraan dan terus menerima pembaruan. Keterangan ini menambah dimensi baru dalam negosiasi yang selama ini berlangsung secara sensitif.

Di satu sisi, pernyataan itu memperlihatkan adanya komunikasi aktif. Di sisi lain, hasil akhir tetap bergantung pada perkembangan situasi yang belum sepenuhnya pasti.

Ada keinginan bertemu langsung

Bagian yang paling menonjol dari pernyataan Trump adalah keinginannya untuk bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei. Ia mengatakan pertemuan itu mungkin terjadi suatu saat, tetapi semuanya tergantung pada situasi.

“Saya ingin bertemu dengannya. Mungkin suatu saat kami akan bertemu, tergantung bagaimana perkembangan situasinya,” kata Trump. Ucapan itu memperkuat kesan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meski belum ada kepastian soal waktu maupun bentuk pertemuan.

Isyarat pertemuan langsung semacam itu sering dibaca sebagai tanda bahwa kedua pihak tengah mencari jalan keluar yang lebih konkret. Karena itu, pernyataan Trump segera menarik perhatian luas.

Tekanan tetap menjadi alat tawar

Meski membuka peluang kesepakatan, Trump tidak melepas tekanan sepenuhnya. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki pilihan lain jika pembicaraan gagal, meski tidak merinci langkah yang dimaksud.

Sebelumnya, Trump pernah menyatakan Washington bisa kembali melancarkan serangan terhadap Iran bila dianggap perlu. Sikap ini memperlihatkan bahwa diplomasi dan ancaman masih berjalan bersamaan.

Kondisi tersebut membuat pembicaraan Iran dan Amerika Serikat tetap berada di titik yang sensitif. Harapan pada kesepakatan masih ada, tetapi arah negosiasi bisa berubah sewaktu-waktu jika tekanan meningkat.

Hubungan dengan Israel ikut terseret

Di tengah pembahasan soal Iran, Trump juga mengakui adanya percakapan yang tegang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengatakan terganggu dengan perang tanpa akhir yang melibatkan Lebanon, meski tetap menegaskan hubungan pribadinya dengan Netanyahu masih baik.

Menurut laporan Axios, dalam percakapan telepon pada Minggu malam, Trump bahkan sempat menyebut Netanyahu sebagai orang gila. Laporan itu juga menyebut Trump mengatakan bahwa tanpa dirinya, Netanyahu mungkin sudah berada di penjara karena kasus korupsi yang membelitnya.

Pernyataan tersebut menambah lapisan lain dalam dinamika politik Timur Tengah. Saat Trump mendorong pembicaraan dengan Iran, hubungan Washington dengan sekutu utamanya di kawasan itu juga terlihat tidak sepenuhnya mulus.

Perkembangan negosiasi antara Teheran dan Washington kini menjadi sorotan karena dapat menentukan arah hubungan kedua negara setelah bentrokan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Trump tetap menempatkan larangan Iran memiliki senjata nuklir sebagai tujuan utama dari pembicaraan yang masih berlangsung.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button