Sorotan terhadap Fadly Alberto tidak hanya tertuju pada aksi tendangan kungfu yang terekam kamera, tetapi juga pada penjelasan baru yang disampaikan Bhayangkara FC U-20. Klub akhirnya membuka konteks yang mereka dapatkan setelah kejadian melawan Dewa United U-20 di ajang Elite Pro Academy U-20, dengan menyebut adanya dugaan ucapan bernada rasis yang diduga memicu emosi pemainnya.
Insiden itu terjadi di Stadion Citarum, Semarang, dan segera ramai setelah videonya menyebar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Fadly tampak melakukan tendangan keras ke arah lawan, sementara foto yang beredar memperlihatkan korban mengalami luka di bagian wajah.
Dugaan Pemicu di Balik Emosi Fadly
Manajer Bhayangkara FC U-20, Yongky Pandu, menjelaskan bahwa Fadly atau Beto mengaku tersulut setelah menerima hinaan yang berkaitan dengan warna kulit. Dari penjelasan yang diterima klub, pemain muda itu merasa mendapat perlakuan yang diduga bernuansa rasis dari lawannya.
Yongky menyampaikan bahwa pengakuan itu muncul saat klub menanyakan langsung kronologi kejadian kepada Fadly. Ia mengatakan ada dugaan ucapan rasis yang memancing emosi pemain, dan hal itu menjadi bagian dari penjelasan internal yang disampaikan sang pemain.
“Ada pengakuan dari pemain terkait dugaan ucapan rasis yang memancing emosi. Dari pengakuan Beto sendiri, dia merasa ada perlakuan rasis terhadap dia,” kata Yongky Pandu.
Meski begitu, Bhayangkara FC tetap menegaskan bahwa dugaan provokasi verbal tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan kasar yang terjadi di lapangan. Klub memandang insiden tersebut sebagai pelanggaran serius yang tetap harus dipertanggungjawabkan.
Klub Menolak Kekerasan di Level Pembinaan
Pihak manajemen menilai kompetisi usia muda seharusnya menjadi ruang pembinaan, bukan tempat meluapkan emosi dengan cara yang merugikan lawan. Karena itu, Bhayangkara FC menempatkan persoalan ini sebagai pelajaran penting bagi pemain muda tentang disiplin dan kontrol diri.
Yongky menegaskan bahwa klub tidak membenarkan tindakan yang dilakukan Fadly. Ia menilai perilaku seperti itu tidak pantas muncul di level pembinaan yang seharusnya mengedepankan sportivitas.
“Sekali lagi kami tidak membenarkan tindakan pemain kami. Itu jelas tidak baik, apalagi ini level pembinaan,” ujar Yongky.
Sikap itu menunjukkan bahwa klub berusaha melihat kasus ini secara utuh. Dugaan adanya ucapan rasis memang menjadi perhatian, tetapi tindakan balasan yang terekam tetap dinilai melanggar batas.
Suasana Panas Sebelum Video Viral
Keterangan klub tidak berhenti pada dugaan ucapan bernada rasis. Yongky juga menyebut ada ketegangan lebih dulu di lapangan sebelum momen utama dalam video viral itu terjadi.
Ia mengatakan sempat ada aksi provokasi fisik dari pemain Dewa United yang ikut memperburuk suasana pertandingan. Menurutnya, situasi itu ikut membuat Fadly emosi hingga kemudian meluapkan amarahnya ke salah satu pemain yang terekam dalam video.
“Sehingga dia merasa emosi dan meluapkan emosinya itu ke salah satu pemain di video viral itu. Tapi sebelum itu, pemain Dewa pun juga melakukan tendangan seperti yang dilakukan Beto,” kata Yongky.
Meski keterangan tersebut memberi konteks tambahan, hal itu tidak menghapus fakta bahwa kekerasan sudah terjadi dan kini menjadi konsumsi publik. Viral-nya video membuat kasus ini meluas, terlebih karena yang terlibat adalah pemain muda yang sedang menjalani proses pembinaan.
Tidak Ada Keterlibatan Ofisial Tim
Di tengah berbagai spekulasi yang muncul setelah insiden itu, Bhayangkara FC juga meluruskan kabar soal kemungkinan keterlibatan staf pelatih atau ofisial. Yongky memastikan bahwa pihak pendamping tim tidak ikut masuk dalam keributan tersebut.
Klarifikasi ini disampaikan agar publik tidak salah membaca peristiwa yang terjadi di area pertandingan. Klub ingin menegaskan bahwa masalah tersebut berada di level pemain, bukan karena campur tangan ofisial tim.
Penjelasan itu juga penting untuk mengurangi simpang siur yang sempat berkembang setelah video tersebar luas. Dengan begitu, fokus kasus tetap berada pada perilaku pemain di lapangan dan bukan pada pihak pendamping tim.
Evaluasi Internal dan Ancaman Sanksi
Setelah kejadian itu mencuat, Bhayangkara FC menyatakan akan memanggil Fadly Alberto untuk evaluasi internal. Klub ingin mendengar penjelasan langsung dari pemain sekaligus mengajaknya berdiskusi tentang tindakan yang telah terjadi.
“Saat ini kami melakukan evaluasi internal terlebih kepada pemain termasuk Beto. Kami tanya kenapa kamu seperti ini, kami ajak diskusi,” ujar Yongky.
Di luar proses pembinaan internal, Fadly juga disebut berpotensi menghadapi sanksi berat dari Komite Disiplin PSSI. Situasi ini membuat kasusnya tidak hanya berhenti di ruang evaluasi klub, tetapi juga bisa berlanjut ke ranah disiplin kompetisi yang lebih luas.
Di tengah dugaan ucapan rasis, video yang beredar, dan respons dari klub, perhatian publik kini tertuju pada bagaimana penanganan selanjutnya akan berjalan. Bhayangkara FC menempatkan kasus ini sebagai persoalan serius yang harus dihadapi dengan evaluasi, pembinaan, dan pertanggungjawaban.





