Di lingkungan kerja yang masih sering menempelkan label pada perempuan, Bank OCBC NISP menunjukkan bahwa ruang kepemimpinan bisa diisi lebih luas. Data perusahaan pada 2025 mencatat, perempuan menempati 40 persen posisi pemimpin senior dan total karyawan perempuan mencapai 52 persen.
Angka itu memperlihatkan bahwa keterwakilan perempuan tidak berhenti di level pendukung, melainkan sudah masuk ke posisi strategis. Di sisi lain, pandangan soal peran perempuan juga terus dipertanyakan, terutama ketika stereotip lama masih menganggap mereka kurang tegas atau terlalu mengandalkan perasaan.
Keberanian mengambil kesempatan
Direktur Bank OCBC NISP, Lili Surjani Budiana, menilai perempuan tidak layak dibatasi oleh anggapan seperti itu. Menurut dia, kunci utama agar perempuan berkembang justru ada pada keberanian untuk mengambil peluang yang muncul.
Lili menegaskan bahwa emansipasi tidak semata-mata soal bekerja di perusahaan. Ia memaknai emansipasi sebagai kebebasan bagi perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih menjadi ibu rumah tangga atau meniti karier profesional.
“Secara pribadi, makna emansipasi adalah setiap Perempuan harus memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan diri. Dalam hal ini berani untuk memilih dan mengambil kesempatan,” ujar Lili Surjani Budiana.
Baginya, kesempatan yang tersedia tidak otomatis memberi hasil. Perempuan tetap perlu berani melangkah agar peluang itu benar-benar menjadi ruang tumbuh.
Perjalanan karier yang tidak lurus
Pengalaman Lili sendiri memperlihatkan bahwa perkembangan karier sering datang dari tugas yang awalnya terasa asing. Dari fungsi legal, ia kemudian mendapat tanggung jawab baru di Deutsche Bank pada bagian operasional pinjaman.
Bidang itu bukan keahliannya saat itu. Namun, Lili memilih tetap menjalani tantangan tersebut karena melihatnya sebagai kesempatan belajar yang bernilai.
“Memang tidak mudah, bahkan struggling. Tapi ternyata, itu adalah salah satu kesempatan yang paling berharga untuk saya,” katanya.
Dari proses itu, ia memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang kredit dan cara kerja bank secara menyeluruh. Pengalaman tersebut juga membentuk cara pandangnya bahwa karier tidak selalu tumbuh lewat jalur yang lurus.
Pelajaran dari masa krisis
Pemahaman itu makin kuat ketika krisis ekonomi 1998 menekan sektor perbankan. Saat itu, bank menghadapi lonjakan kredit macet dan perubahan suku bunga yang bergerak cepat serta sulit diprediksi.
Lili melihat periode itu sebagai masa yang banyak memberi pelajaran. Ia bahkan menyebutnya sebagai “blessing in disguise” karena situasi sulit justru memperkaya pemahamannya tentang bagaimana bank bertahan dalam tekanan.
Setelah itu, Lili bergabung dengan OCBC Indonesia yang kemudian merger dengan Bank OCBC NISP pada 2011. Dari perjalanan tersebut, ia menekankan bahwa keberhasilan yang bertahan lama tidak datang seketika.
“Memang perlu waktu dan kemauan, karena menurut saya keberhasilan yang berkelanjutan tidak ada yang instan. Untuk mencapainya membutuhkan proses,” kata Lili.
Stereotip belum hilang sepenuhnya
Meski partisipasi perempuan di perbankan meningkat, Lili mengakui stereotip gender masih ada di dunia kerja. Masih ada pandangan yang menilai perempuan kurang cocok untuk posisi tertentu karena dianggap kurang tegas, kurang berani, atau lebih mengutamakan perasaan daripada logika.
“Kadang di hal tertentu, perempuan dianggap kurang tegas, dan laki-laki lebih cocok untuk melakukannya. Perempuan dianggap kurang berani, lebih menggunakan perasaan instead of logika,” ungkapnya.
Menurut Lili, cara paling efektif untuk menjawab anggapan itu adalah menunjukkan hasil kerja yang nyata. Dengan demikian, kompetensi perempuan bisa terlihat lewat kontribusi, bukan sekadar asumsi.
Mengapa sektor perbankan membutuhkan perempuan
Lili juga melihat bahwa sektor perbankan justru memerlukan sejumlah kualitas yang kerap dikaitkan dengan perempuan. Empati, ketelitian, kemampuan komunikasi, dan kepekaan terhadap risiko menjadi karakter penting dalam industri yang bergantung pada kepercayaan.
“Semua keunggulan ini sangat dibutuhkan dalam sektor perbankan yang membutuhkan kolaborasi, kepekaan terhadap risiko, serta mengutamakan kepercayaan dan prinsip kehati-hatian,” tutur Lili.
Dalam pandangan itu, isu gender bukan lagi hanya soal jumlah perempuan di kursi kepemimpinan. Yang juga penting adalah nilai tambah yang dibawa ketika perempuan masuk ke posisi strategis dan ikut mengambil keputusan penting.
Data OCBC NISP menunjukkan bahwa representasi perempuan sudah bergerak ke level yang lebih tinggi. Dengan 40 persen pemimpin senior perempuan dan 52 persen karyawan perempuan, perusahaan ini menjadi salah satu contoh bahwa stereotip lama mulai ditantang oleh kontribusi nyata di lapangan.





