Ancaman Sesar Lembang Menguat, Bandung Raya Hadapi Gempa Besar Hingga Tiga Segmen Patahan

Ancaman dari Sesar Lembang kembali menjadi perhatian karena kawasan Bandung Raya berada dekat jalur patahan aktif yang dinilai mampu memicu gempa besar. Potensi guncangan dari sumber ini disebut dapat mencapai magnitudo 6,5 hingga 7, sehingga tingkat kewaspadaan di wilayah padat penduduk itu perlu terus dijaga.

Risiko tersebut tidak hanya terkait kuatnya gempa, tetapi juga kedekatan patahan dengan kawasan permukiman. Di utara Bandung, patahan aktif sepanjang sekitar 29 kilometer itu melintas di area yang memiliki tingkat kerentanan tinggi jika terjadi pergerakan tanah yang signifikan.

Pemetaan yang dibuat lebih rinci

Badan Geologi Kementerian ESDM telah menaruh perhatian pada bahaya ini melalui diskusi daring yang membahas karakteristik geologi dan geofisika Sesar Lembang sejak Maret. Fokus utamanya adalah memahami struktur patahan secara lebih detail agar strategi mitigasi bisa disusun lebih tepat bagi warga yang tinggal di wilayah terdampak.

Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Edy Slameto, menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan survei geologi dan geofisika terpadu pada akhir 2025. Survei itu dirancang untuk membaca karakter Sesar Lembang secara lebih mendalam melalui gabungan penginderaan jauh, survei lapangan, dan analisis kondisi bawah permukaan.

Pendekatan yang dipakai juga tidak tunggal. Tim akan menggunakan Ground Penetrating Radar atau GPR, geolistrik, geomagnetik detail, serta metode geofisika dalam seperti gravity dan pemantauan gempa mikro.

Terbagi dalam tiga segmen

Hasil kajian menunjukkan bahwa Sesar Lembang tidak berdiri sebagai satu struktur seragam. Patahan ini dibagi menjadi tiga segmen utama, yaitu barat, tengah, dan timur, yang masing-masing memperlihatkan karakter geologi berbeda.

Segmen barat memiliki patahan yang relatif tegak di permukaan, tetapi cenderung miring ke arah selatan pada kedalaman yang lebih besar. Pada segmen tengah, struktur patahan juga terlihat tegak di permukaan, meski karakter geologinya berbeda dari segmen barat.

Segmen timur menunjukkan pola yang lebih rumit. Data memperlihatkan kemungkinan dua pola kemiringan, yakni miring ke arah utara dekat permukaan lalu menjadi lebih tegak pada lapisan yang lebih dalam.

Bahaya yang melampaui guncangan utama

Para peneliti menilai dampak dari Sesar Lembang tidak berhenti pada getaran saat gempa terjadi. Gerakan tanah dan retakan permukaan juga perlu diwaspadai karena dapat memperbesar kerusakan di lapangan.

Kondisi itu dinilai memiliki kemiripan dengan wilayah di sekitar Sesar Cugenang yang memicu gempa Cianjur pada 2022. Kesamaan pentingnya terletak pada kondisi geologi, karena keduanya berada di atas material rombakan gunung api muda yang relatif rapuh.

Kerentanan bangunan menjadi faktor lain yang bisa memperburuk situasi. Jika bangunan tidak tahan gempa dan mitigasi masih minim, risiko korban serta kerusakan dapat meningkat tajam saat gempa terjadi.

Pentingnya kesiapsiagaan di Bandung Raya

Karena itu, Badan Geologi menilai pengurangan risiko bencana di sekitar Sesar Lembang harus dilakukan secara serius. Langkah yang ditekankan mencakup peningkatan mitigasi gempa dan penguatan kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya geologi di Bandung Raya.

Sorotan terhadap patahan ini menjadi krusial karena lokasinya berdekatan dengan pusat aktivitas penduduk. Dengan karakter aktif dan struktur yang berubah-ubah di tiap segmen, pemetaan yang lebih detail dianggap penting untuk memperkuat kesiapsiagaan warga maupun pemerintah daerah.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button