Di Beijing, Rusia dan China menampilkan sikap yang sama di hadapan dunia pada saat hubungan keduanya kembali menjadi sorotan. Pertemuan Vladimir Putin dengan Xi Jinping tidak hanya menegaskan kedekatan politik, tetapi juga memperlihatkan bahwa Moskwa dan Beijing ingin tampil satu suara saat berhadapan dengan Amerika Serikat.
Panggung pertemuan itu disusun dengan pesan yang jelas. KTT China-Rusia digelar di Beijing pada Rabu (20/5/2026) dengan karpet merah dan iringan band militer yang memainkan lagu kebangsaan kedua negara.
Sinyal keras ke Washington
Dalam pernyataan bersama, kedua negara sama-sama mengecam rencana Presiden AS Donald Trump membangun sistem pertahanan “Golden Dome” senilai US$ 175 miliar. Sistem itu dipandang akan menciptakan lapangan rudal baru di kawasan Midwest, AS, dan dinilai menambah ketegangan strategis.
Putin dan Xi juga menyoroti berakhirnya perjanjian pengendalian senjata terakhir antara AS dan Rusia yang gagal diperpanjang pada Februari lalu. Rusia sebelumnya mengajukan perpanjangan selama satu tahun, tetapi Washington tidak memberi tanggapan.
Sikap itu memperlihatkan bahwa isu pengendalian senjata masih menjadi titik sensitif dalam hubungan Rusia-AS. Di saat yang sama, Beijing memilih berdiri sejajar dengan Moskwa untuk menolak langkah Washington yang dianggap sepihak.
Kedekatan yang ditampilkan lewat seremoni
Nuansa seremoni di Beijing ikut memperkuat kesan bahwa hubungan Rusia dan China ingin diposisikan sebagai kemitraan strategis yang solid. Kedatangan Putin mendapat panggung yang sangat teratur, dan pesan yang muncul tidak berhenti pada pertemuan bilateral biasa.
Kunjungan itu juga terjadi hanya beberapa hari setelah kunjungan Trump ke Beijing dalam rangka KTT AS-China. Urutan pertemuan tersebut membuat Beijing terlihat berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan dua kekuatan besar.
Di tengah situasi itu, Putin menegaskan bahwa hubungan ekonomi dan interaksi kedua negara tetap bergerak positif meski menghadapi tekanan dari luar. Ia mengatakan, “Bahkan di tengah faktor eksternal yang tidak menguntungkan, interaksi dan kerja sama ekonomi kita menunjukkan momentum yang kuat.”
Xi Jinping menyampaikan nada serupa. Ia mengatakan China dan Rusia tetap mampu menjaga kepercayaan politik serta koordinasi strategis di tengah berbagai tekanan.
“Kita telah mampu terus memperdalam kepercayaan timbal balik politik dan koordinasi strategis kita dengan ketahanan yang tetap tak tergoyahkan meskipun menghadapi cobaan dan kesulitan,” kata Xi.
Pesan yang melampaui urusan bilateral
Forum yang sama juga memunculkan pesan lain dari Beijing. Xi menyinggung konflik antara AS-Israel dan Iran, lalu menilai eskalasi harus segera dihentikan.
Ia menekankan perlunya gencatan senjata secepat mungkin. “Gencatan senjata komprehensif sangat mendesak, melanjutkan permusuhan bahkan lebih tidak disarankan, dan menjaga negosiasi sangat penting,” ujar Xi Jinping.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa China ingin tampil sebagai pihak yang mendorong de-eskalasi. Pada saat yang sama, Beijing memperluas pesan diplomatiknya di luar hubungan dengan Rusia semata.
Dalam kerangka yang lebih luas, China dan Rusia sama-sama menolak tata kelola global yang didominasi satu pihak. Kedua negara menilai ruang internasional harus tetap terbuka bagi banyak kekuatan, bukan diarahkan oleh satu pusat pengaruh saja.
Peringatan terhadap tatanan dunia yang terpecah
Dalam pernyataan bersama, Beijing dan Moskwa juga memperingatkan risiko fragmentasi komunitas internasional. Mereka menilai ada bahaya kembalinya pola “hukum rimba” dalam hubungan geopolitik.
Keduanya menyebut upaya sejumlah negara untuk mengatur urusan global secara sepihak telah gagal. “Upaya sejumlah negara untuk secara sepihak mengelola urusan global, memaksakan kepentingan mereka pada seluruh dunia, dan membatasi pembangunan kedaulatan negara lain, dengan semangat era kolonial, telah gagal,” bunyi pernyataan itu.
Dari panggung Beijing, kunjungan Putin pun berubah menjadi lebih dari sekadar agenda diplomatik. Momen itu menjadi sinyal bahwa Rusia dan China masih berupaya menyatukan sikap ketika tekanan strategis dari Washington terus membayangi.
Source: www.beritasatu.com




