Bagi banyak warga rentan di Kabupaten Tangerang, bantuan dari Kementerian Sosial tidak datang dalam bentuk satu paket saja, melainkan rangkaian layanan yang langsung menyentuh kebutuhan sehari-hari. Total nilai bantuan dan layanan sosial yang disalurkan mencapai Rp 924.998.678 kepada 449 penerima manfaat di wilayah tersebut.
Skema penyaluran ini menarik perhatian karena tidak hanya berfokus pada bantuan barang atau dana. Melalui Bakti Sosial Terpadu, Kemensos menghadirkan layanan kesehatan, pemenuhan hak dasar, hingga dukungan bagi kelompok yang selama ini sulit menjangkau layanan formal.
Layanan yang Menjangkau Banyak Kebutuhan
Dalam kegiatan itu, Kemensos menyalurkan pemenuhan hidup layak, bantuan kewirausahaan, alat bantu aksesibilitas, operasi katarak, khitanan massal, sidang isbat nikah, pemeriksaan kesehatan, dan program Pekerja Sosial Goes to School. Seluruh rangkaian layanan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan warga dari sisi kesehatan, pendidikan, dan kemandirian ekonomi.
Penyerahan bantuan juga diikuti peninjauan ke posko kesehatan, layanan fisioterapi, donor darah, serta pembagian kacamata gratis. Pemerintah menempatkan layanan semacam ini sebagai upaya memperluas jangkauan hak dasar warga negara, terutama bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses layanan resmi.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa negara perlu hadir lebih dekat kepada warga yang kerap luput dari perhatian. Ia menyebut Kemensos terus berupaya menghadirkan layanan melalui bantuan sosial, ATENSI, intervensi, hingga penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Agus Jabo juga mengaitkan langkah itu dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar aparatur pemerintah lebih proaktif memantau kondisi warga. Menurut dia, jajaran pemerintah tidak boleh membiarkan persoalan sosial di daerah berlarut-larut tanpa penanganan.
Dukungan untuk Kelompok Rentan
Sasaran utama kegiatan ini mencakup lansia, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok lain yang kerap sulit menjangkau layanan formal. Karena itu, penyaluran bantuan tidak sekadar diposisikan sebagai seremonial, tetapi sebagai cara untuk memuliakan warga yang tidak terjangkau dan sering terabaikan.
Kegiatan di Tangerang juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Lanjut Usia Nasional 2026 yang sebelumnya berpusat di Nusa Tenggara Timur. Kemensos menegaskan bahwa peringatan HLUN tidak boleh berhenti sebagai acara tahunan, melainkan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Di lokasi kegiatan, Agus Jabo didampingi Dirjen Rehabilitasi Sosial Supomo, Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Suratna, dan Kepala Sentra Mulya Jaya Siti Indriasari. Hadir pula Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah, Ketua Yayasan LKS Lanjut Usia Husnul Khotimah Istiqnan Helmy Nasution, Pembina Yayasan Islamic Village Islam Akbar Nasution, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Tangerang.
Kolaborasi dengan Lembaga Sosial
Kemensos juga memberi apresiasi kepada pengelola Islamic Village yang dinilai konsisten merawat anak yatim dan lansia telantar selama puluhan tahun. Kolaborasi dengan lembaga sosial dipandang penting agar program kesejahteraan sosial bisa berjalan berkelanjutan di daerah.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pemenuhan kesejahteraan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Keterlibatan lembaga sosial dan jejaring lokal ikut membantu layanan menjangkau warga yang membutuhkan secara lebih tepat.
Dampak yang Dirasakan Penerima Manfaat
Dampak langsung dari bantuan terlihat pada penerima manfaat seperti Sumarsih dari Karawaci. Ia menerima modal usaha es cincau dan menyebut kehidupannya membaik setelah dukungan itu hadir, termasuk ketika anaknya bisa masuk Sekolah Rakyat melalui informasi dari pendamping PKH.
Sumarsih mengaku sebelumnya sempat putus asa karena anaknya ingin melanjutkan sekolah tetapi terkendala biaya. Kini pendapatan hariannya naik menjadi Rp100 ribu per hari dari sebelumnya hanya mengandalkan uang pemberian suami sebesar Rp30 ribu.
Ia juga menyebut dirinya sudah graduasi dari program bantuan sosial setelah kondisi ekonomi keluarga membaik. Menurut dia, dukungan dari Kemensos membuka peluang usaha yang lebih stabil dan membuat keluarganya lebih berdaya.
Manfaat serupa dirasakan Bambang Pranowo Hadi, warga Kecamatan Curug berusia 61 tahun, yang memperoleh alat bantu dengar. Sebelum menerima bantuan itu, ia mengalami hambatan komunikasi berat dan harus membaca gerakan bibir lawan bicara untuk memahami percakapan.
Setelah menggunakan alat bantu tersebut, Bambang mengatakan pendengarannya menjadi lebih jelas dan komunikasinya terbantu. Ia menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya, sementara Kemensos berharap bantuan yang disalurkan dapat dipakai untuk menunjang aktivitas harian, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat ketahanan keluarga.





