Dari Raja Komputer Rumahan ke Bangkrut, Kekeliruan yang Mengakhiri Commodore

Kejatuhan Commodore sering dibaca sebagai kisah tentang perusahaan yang pernah terlalu besar untuk gagal, lalu justru runtuh karena lambat beradaptasi. Dari luar, merek ini tampak seperti simbol kejayaan komputer rumahan, tetapi di dalamnya fondasi bisnisnya tidak cukup kuat untuk menahan perubahan pasar.

Nama Commodore memang sempat identik dengan masa awal komputer pribadi yang lebih terjangkau. Perusahaan ini melahirkan Commodore PET sebagai komputer all-in-one pertama, lalu Commodore 64 yang kemudian dikenal sebagai desktop paling laris sepanjang masa.

Di bawah Jack Tramiel, Commodore mendorong gagasan bahwa komputer pribadi tidak semestinya menjadi barang mahal dan eksklusif. Strategi itu berhasil besar karena perusahaan mampu menghadirkan perangkat yang murah dan mudah dijangkau banyak orang.

Commodore PET yang dirilis pada 1977 menjadi titik awal penting dalam perjalanan itu. Komputer tersebut laris di lingkungan kerja dan pendidikan, sebelum Commodore 64 membawa perusahaan ke level yang jauh lebih tinggi.

Commodore 64 dijual seharga $595 dan menawarkan kemampuan grafis yang efisien biayanya. Perangkat ini menarik bagi pasar profesional maupun konsumen, terutama gamer, dan penjualannya mencapai sekitar 12,5 juta unit.

Ketergantungan pada satu keberhasilan besar

Masalah mulai muncul ketika Commodore terlalu lama bertumpu pada Commodore 64. Keberhasilan produk itu memang mengangkat perusahaan, tetapi juga membuat arah bisnis menjadi sempit dan sulit bergerak cepat saat pasar berubah.

Kondisi internal makin rapuh setelah Jack Tramiel meninggalkan perusahaan pada 1984. David John Pleasance, yang saat itu menjabat managing director Commodore, mengatakan perusahaan tidak pernah benar-benar pulih dari kepergian Tramiel.

Tanpa rencana bisnis jangka panjang yang jelas, manajemen senior kerap berganti. Banyak di antara mereka juga dinilai tidak memahami bisnis komputer rumahan, sehingga perusahaan cenderung mengejar keuntungan jangka pendek.

Pergantian kekuasaan internal turut memperburuk keadaan. Hanya dalam dua tahun setelah Commodore 64 dirilis, dewan direksi memaksa Tramiel keluar, dan langkah itu disebut menjadi awal dari masalah yang lebih besar.

Amiga datang, tetapi tidak cukup menyelamatkan

Commodore sempat mencoba membalik keadaan lewat Amiga. Mesin ini dipuji sebagai perangkat multimedia pionir yang memadukan kebutuhan kantor, permainan, dan dunia kreatif, bahkan menarik perhatian Andy Warhol.

Namun, reputasi revolusioner tidak otomatis berubah menjadi sukses komersial. Pada 1985, Amiga gagal menembus pasar konsumen karena pemasaran Commodore dinilai tidak tepat sasaran.

Perusahaan tetap melanjutkan model-model Amiga berikutnya untuk bertahan. Upaya itu menjaga bisnis tetap hidup untuk sementara, tetapi tidak cukup untuk mengubah arah besar perusahaan.

Saat pasar bergerak, Commodore tertinggal

Memasuki 1990-an, peta persaingan komputer berubah cepat. Windows mulai mendominasi pasar dengan arsitektur yang menetapkan standar baru untuk komputer pribadi yang tidak bergantung pada perangkat keras tertentu.

Commodore terlambat menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Saat pasar bergerak ke arah baru, perusahaan justru tertinggal dan tidak lagi berada dalam posisi kuat untuk menantang Microsoft dan IBM.

Tekanan keuangan akhirnya ikut mengungkap seberapa jauh masalah itu berlangsung. Pada 1994, Commodore mencatat kerugian $8,2 juta.

Tak lama setelah itu, perusahaan tidak punya banyak pilihan selain mengajukan kebangkrutan. Kejatuhan Commodore menunjukkan bahwa produk legendaris saja tidak cukup jika perusahaan gagal berinovasi dan salah mengelola arah bisnis.

Meski begitu, warisan Commodore belum hilang dari ingatan penggemar teknologi. Commodore 64 masih dicintai hingga kini, Amiga mendapat rerelease modern, dan Amiga 500 yang disebut gagal pun masih bisa bernilai tambahan $600 jika ditemukan di basement keluarga.

Baca Juga

Back to top button