Harga di Jawa Timur masih bergerak naik, tetapi Badan Pusat Statistik menilai kondisinya belum keluar dari jalur yang aman. Pada Mei 2026, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 3,49 persen, masih berada dalam target pemerintah yang dipatok 2,5 persen plus minus 1 persen.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, menyebut tekanan harga di provinsi ini memang lebih tinggi dari inflasi nasional yang berada di level 3,08 persen. Meski begitu, angka tersebut belum dinilai cukup berat untuk mengguncang daya beli masyarakat.
Tekanan datang dari banyak kelompok pengeluaran
Kenaikan harga dalam setahun terakhir terjadi hampir di seluruh kelompok pengeluaran. Kontributor terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, tembakau, perawatan pribadi, jasa lainnya, serta transportasi.
Sejumlah komoditas ikut menjadi pendorong utama inflasi, terutama emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan beras. Di sisi lain, bawang putih, kelapa, dan pisang membantu menahan laju kenaikan harga agar tidak lebih tinggi.
Herum juga menyoroti biaya bahan baku industri yang meningkat karena impor. Kenaikan harga produk berbahan plastik kemudian merambat ke sejumlah barang lain, termasuk peralatan elektronik dan air minum kemasan.
Pangan dan transportasi masih memberi tekanan
Kelompok pangan bergejolak tetap memberi sumbangan besar pada inflasi Mei. Pasokan beras, cabai, dan bawang disebut terbatas sehingga harga terdorong naik di pasar.
Di saat yang sama, pasokan daging dan telur ayam ras masih tercukupi. Namun, permintaannya menurun dibanding bulan sebelumnya sehingga dampaknya terhadap inflasi tidak seragam pada semua komoditas.
Inflasi bulanan Jawa Timur pada Mei 2026 tercatat 0,28 persen. Kota Surabaya menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,37 persen, sedangkan Kota Probolinggo berada di posisi terendah dengan 0,03 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,11 persen. Pemicunya terutama kenaikan harga angkutan udara, yang dipengaruhi naiknya harga faktor domestik di seluruh wilayah Indonesia sebesar 14,81 persen hingga 16,16 persen dibanding bulan sebelumnya.
Seluruh daerah ikut mencatat kenaikan
Inflasi tahunan juga terjadi di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kabupaten Sumenep membukukan inflasi tertinggi pada Mei 2026 sebesar 5,12 persen, sedangkan Kabupaten Tulungagung mencatat inflasi terendah sebesar 2,84 persen.
Herum menegaskan angka 3,49 persen masih tergolong aman karena masih berada dalam koridor target inflasi pemerintah. Ia juga menyebut perkembangan global, termasuk perang dan faktor geopolitik, ikut memengaruhi arah inflasi di banyak negara.
Dibanding seluruh provinsi di Pulau Jawa pada Mei 2026, inflasi tahunan Jawa Timur memang tergolong tinggi. Namun secara year-to-date, inflasi Jatim masih berada di level 1,43 persen, yang menunjukkan tekanan harga sepanjang tahun belum terlalu dalam.
BPS berharap pemerintah tetap menyiapkan kebijakan yang mampu meredam tekanan harga. Langkah itu dinilai penting agar kondisi inflasi di Jawa Timur tetap kondusif pada bulan-bulan berikutnya.
Source: surabaya.bisnis.com




