Ancaman hoaks, intoleransi, dan politik identitas membuat peran Banser kembali disorot di Jawa Tengah. Gubernur Ahmad Luthfi menilai organisasi itu perlu tampil sebagai penyejuk di tengah ruang sosial yang mudah memanas.
Peringatan itu ia sampaikan saat membuka Kursus Banser Pimpinan atau Susbanpim Angkatan VIII di Pusdik Binmas Banyubiru, Kabupaten Semarang. Dalam pandangannya, Banser bukan hanya penggerak kegiatan organisasi, tetapi juga penjaga keteduhan masyarakat saat isu berkembang terlalu cepat.
Menahan provokasi di tengah arus informasi
Luthfi menyoroti derasnya disinformasi di media sosial yang dapat memicu salah paham dan berujung pada konflik horizontal. Karena itu, ia meminta Banser hadir sebagai penahan suhu sosial agar masyarakat tidak mudah terseret provokasi.
Ia juga menilai tantangan yang dihadapi tidak berhenti pada hoaks. Radikalisme, intoleransi, dan politik identitas masih menjadi persoalan yang perlu diantisipasi bersama sebelum berubah menjadi gesekan yang lebih luas.
Menurut Luthfi, situasi global yang tidak menentu ikut memberi dampak ke kehidupan masyarakat daerah. Kondisi itu membuat peran organisasi seperti Banser semakin penting untuk membantu menjaga stabilitas sosial di tingkat lokal.
Peran yang tidak hanya soal keamanan sosial
Banser, kata Luthfi, memiliki posisi strategis karena kiprahnya dekat dengan kebutuhan masyarakat. Selain mencegah intoleransi dan radikalisme, organisasi ini juga aktif dalam kegiatan sosial dan penanganan kebencanaan.
Karena itu, ia meminta kader Banser memiliki disiplin tinggi, loyalitas organisasi, wawasan kebangsaan, jiwa kepemimpinan, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman yang makin kompleks. Baginya, kemampuan itu diperlukan agar Banser tetap relevan di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat.
Luthfi juga mengingatkan bahwa ancaman sosial ke depan tidak bisa dipandang ringan. Ia menilai tugas Banser justru makin berat karena harus menjaga ketenangan sosial sekaligus merespons berbagai risiko yang muncul bersamaan.
Risiko bencana ikut menuntut kesiapsiagaan
Selain soal konflik sosial, Luthfi menekankan tingginya ancaman bencana di Jawa Tengah. Ia menyebut banjir, longsor, rob, dan aktivitas gunung api sebagai risiko yang menuntut kewaspadaan bersama.
Dalam konteks itu, Banser dipandang punya ruang peran yang nyata di lapangan. Kesiapsiagaan organisasi ini dinilai penting untuk mendukung masyarakat saat menghadapi situasi darurat yang datang tanpa banyak tanda.
Penguatan kader jadi perhatian Ansor
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin menilai penguatan sumber daya manusia menjadi kunci bagi kemajuan organisasi. Ia menekankan bahwa transformasi kaderisasi perlu terus dilakukan agar lahir kader yang adaptif dan berdaya guna.
Addin mengatakan kader Ansor ke depan harus mampu memberi manfaat bagi masyarakat dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Ia juga menilai kader perlu bisa menyesuaikan diri dengan perubahan lokal agar tetap relevan di tengah dinamika sosial yang terus bergerak.
Baginya, penguatan kader bukan semata urusan organisasi. Proses itu juga menyangkut manfaat langsung bagi pribadi, keluarga, dan lingkungan sekitar, sehingga kaderisasi perlu terus berjalan untuk memperkuat peran sosial Ansor dan Banser di daerah.
Source: timesindonesia.co.id




