Bagi UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta, dorongan Bank Indonesia kali ini tidak hanya soal bertahan di pasar lokal. Lewat Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026, pelaku usaha kecil diarahkan untuk masuk ke ekosistem yang lebih luas melalui digitalisasi, pembiayaan formal, dan promosi yang terhubung dengan pariwisata serta ekonomi kreatif.
Kegiatan tersebut juga menjadi penanda bahwa pembayaran digital makin kuat posisinya di DIY. Pertumbuhan penggunaan QRIS berjalan beriringan dengan upaya BI mendorong UMKM agar tidak tertinggal dari perubahan perilaku transaksi masyarakat.
Digitalisasi transaksi terus menguat
Hingga April 2026, jumlah pengguna QRIS di DIY tercatat lebih dari 1,08 juta pengguna. Pada periode yang sama, merchant QRIS sudah mencapai lebih dari 1,11 juta merchant.
Sepanjang 2026, transaksi QRIS di DIY juga menyentuh 198 juta transaksi. Angka itu tumbuh 62,19% secara tahunan dan menunjukkan adopsi pembayaran digital yang semakin luas di tengah masyarakat dan pelaku usaha.
UMKM diminta naik kelas
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menegaskan bahwa penguatan UMKM merupakan perhatian berkelanjutan. Menurut dia, sektor ini memegang peran penting dalam perekonomian daerah dan perlu terus didorong agar lebih siap bersaing.
BI mendorong UMKM naik kelas lewat peningkatan mutu produk, standardisasi usaha, serta akses yang lebih erat ke ekosistem digital dan pembiayaan formal. Penguatan promosi UMKM juga diarahkan agar mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif, dua sektor yang punya kaitan kuat dengan DIY.
260 pelaku usaha ikut terlibat
Grebeg UMKM X DJAMUAN Istimewa 2026 mengusung tema “Nyawiji” dan berlangsung pada 5 hingga 7 Juni 2026. Dalam agenda itu, hadir pameran UMKM dari sektor fashion, food, dan craft, serta Pasar Kangen Digital & Halal yang melibatkan 260 UMKM.
Rangkaian acaranya tidak berhenti pada promosi produk. BI juga menyiapkan Capacity Building Millennial Batik, Latte Art Competition, Kompetisi Robotika, Lomba Bankers Wear Wastra, talkshow pengembangan UMKM, dan sosialisasi Cinta Bangga Paham Rupiah, QRIS, serta pelindungan konsumen.
Akses pasar dan pembiayaan jadi sasaran
Ricky berharap kegiatan ini bisa memperluas akses pasar dan pembiayaan bagi UMKM. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas usaha, penguatan digitalisasi transaksi, dan jejaring bisnis yang lebih luas agar produk lokal DIY punya peluang berkembang lebih besar.
Dari sisi BI, penguatan itu diharapkan tidak berhenti pada peningkatan transaksi. Dorongannya juga mencakup tumbuhnya kecintaan masyarakat terhadap produk lokal agar UMKM punya pijakan yang lebih kuat di pasar.
Ekonomi DIY dinilai tetap tangguh
Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta KGPAA Paku Alam X menyampaikan bahwa perekonomian DIY pada triwulan I 2026 tumbuh 5,84% secara tahunan. Capaian itu menempatkan DIY sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Jawa.
Ia menilai angka tersebut menunjukkan ketahanan dan daya saing ekonomi DIY di tengah dinamika nasional dan global. Menurutnya, penyelenggaraan Grebeg UMKM dan DJAMUAN Istimewa menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan potensi, tetapi juga kemampuan menghubungkan potensi agar manfaatnya meluas ke masyarakat.
KGPAA Paku Alam X juga menekankan perlunya koordinasi lintas lembaga, sinergi antarpemangku kepentingan, dan dukungan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas UMKM. Dengan dorongan itu, UMKM DIY diharapkan makin siap menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Source: mediaindonesia.com




