Emas Dunia Tertekan Sepekan, Ketegangan Iran dan Suku Bunga Menahan Laju Naik

Pergerakan emas dunia kembali tersendat setelah gagal mempertahankan penguatan singkat pada perdagangan Jumat. Di pasar spot, logam mulia itu tetap mencatat pelemahan 2,57 persen sepanjang pekan keempat April meski pada penutupan terakhir sempat naik 0,24 persen ke US$ 4.709,27 per troy ons.

Tekanan itu menunjukkan investor belum mau memberi ruang besar bagi emas untuk bangkit. Di tengah posisinya sebagai aset aman, pasar justru lebih banyak menimbang dampak ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi.

Gejolak Iran menahan minat beli

Faktor terbesar yang membebani emas datang dari ketegangan di Iran yang belum mereda sejak akhir Februari. Situasi yang belum menemukan jalan damai itu ikut mengangkat harga energi dunia dan menambah kekhawatiran akan inflasi yang lebih luas.

Minyak jenis brent bahkan sempat menyentuh US$ 105,33 per barel. Kenaikan energi seperti ini membuat pasar menilai bank sentral bisa mempertahankan suku bunga acuan lebih lama, kondisi yang umumnya kurang mendukung emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Diplomasi belum memberi sinyal yang menenangkan

Di saat pasar menunggu tanda meredanya konflik, jalur diplomasi belum menghasilkan kepastian baru. Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengutus Steve Witkoff dan Kushner ke Pakistan untuk bertemu petinggi Iran, tetapi langkah itu belum memunculkan sinyal positif dari Teheran.

Iran juga disebut masih enggan membuka ruang dialog perdamaian. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menuju Pakistan dalam waktu dekat, namun kantor berita Tasnim menyebut kunjungan itu bukan untuk berkomunikasi dengan delegasi dari Washington.

Kondisi tersebut membuat pasar sulit membaca arah terbaru dari ketegangan kawasan. Selama belum ada kepastian yang benar-benar meredakan risiko geopolitik, harga emas tetap sensitif terhadap setiap kabar dari Timur Tengah.

Sinyal teknikal masih belum rusak sepenuhnya

Walau tekanan mingguan masih kuat, gambaran teknikal emas belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Relative Strength Index atau RSI 14 hari berada di level 55, yang masih menempatkan emas di zona bullish.

Di sisi lain, Stochastic RSI tercatat di level 15. Posisi ini menunjukkan kondisi jenuh jual atau oversold, yang sering dibaca pelaku pasar sebagai tanda bahwa tekanan jual sudah cukup dalam meski arah berikutnya tetap bergantung pada sentimen fundamental.

Area harga yang menjadi perhatian pasar

Dalam perdagangan pekan berikutnya, pelaku pasar akan memantau apakah emas mampu menembus area resisten terdekat di US$ 4.749 per troy ons pada Moving Average 20. Jika level pivot US$ 4.788 berhasil dilewati, ruang kenaikan masih terbuka menuju US$ 4.852 hingga target optimistis di US$ 5.199 per troy ons.

Namun, tekanan jual belum selesai jika sentimen negatif kembali dominan. Support terdekat berada di US$ 4.694 per troy ons, disusul US$ 4.686 bila pelemahan berlanjut, sebelum potensi koreksi lebih dalam ke US$ 4.441 per troy ons.

Dengan arah pasar yang masih dipengaruhi konflik Iran, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga yang belum turun, emas memasuki pekan baru dalam posisi yang rapuh. Pergerakannya akan sangat ditentukan oleh apakah pasar menerima kabar yang meredakan ketegangan atau justru menghadapi tekanan volatilitas baru dari aset safe haven tersebut.

Baca Juga

Back to top button