Inflasi Turun, IPM Jabar Tertinggi Di Indonesia, Dedi Mulyadi Tegaskan Hasil Kerja Bersama

Di tengah sorotan terhadap kinerja pembangunan daerah, Jawa Barat justru menampilkan sederet indikator yang bergerak membaik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan provinsi ini mencatat perbaikan pada sejumlah aspek makro, bahkan di beberapa bagian disebut melampaui rata-rata nasional.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai capaian itu tidak bisa dilekatkan pada satu sosok saja. Menurutnya, perubahan yang terlihat merupakan hasil kerja bersama dari bawah hingga atas, mulai dari RT dan RW, kepala desa, camat, bupati, hingga jajaran pemerintahan dan masyarakat.

Salah satu indikator yang paling mencolok adalah inflasi Jawa Barat yang berada di angka 0,99 persen. Angka itu lebih rendah dibanding inflasi nasional yang tercatat 1,35 persen, sehingga memberi sinyal harga-harga di daerah tersebut relatif lebih terkendali.

Di saat yang sama, ekonomi Jawa Barat juga bergerak naik 0,37 persen. Pergerakan itu ikut diikuti oleh pasar kerja yang menunjukkan perbaikan, dengan tingkat pengangguran terbuka turun 0,10 persen.

Perbaikan lain terlihat pada angka kemiskinan yang menurun 0,30 persen. Ketimpangan pendapatan pun ikut menyempit, ditandai penurunan 0,03 poin pada indikator tersebut.

Kerja kolektif dari tingkat paling bawah

Dedi menegaskan bahwa hasil itu sejalan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Ia menilai arah kebijakan pembangunan yang dijalankan selama ini mengikuti apa yang benar-benar dibutuhkan publik.

Dalam pandangannya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci di balik membaiknya banyak indikator tersebut. Karena itu, ia menempatkan peran aparatur di semua tingkatan sebagai bagian penting dari perubahan yang sedang terjadi di Jawa Barat.

Selain indikator ekonomi dan sosial, Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat juga ikut naik 0,98 poin. Capaian itu disebut sebagai yang tertinggi di Indonesia dan memperkuat perhatian terhadap performa daerah tersebut.

Masih ada pekerjaan rumah

Meski data menunjukkan kemajuan, Dedi tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih tersisa. Ia mengakui hasil yang ada belum sepenuhnya memuaskan, terutama pada urusan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Dedi menyebut beberapa pabrik akan segera diresmikan dalam waktu dekat. Ia berharap aktivitas itu dapat membantu proses produksi sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Sorotan pada investasi dan lapangan kerja menjadi penting karena perbaikan di level indikator makro belum otomatis menjawab seluruh kebutuhan warga. Pemerintah daerah pun masih dituntut menjaga momentum agar perbaikan yang tercermin di data benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Source: bandung.kompas.com

Baca Juga

Back to top button