Jalur Darat Dipertimbangkan Iran, 3.000 Kontainer Tujuan Karachi Masih Tertahan di Tengah Tekanan Hormuz

Di Pelabuhan Karachi, sekitar 3.000 kontainer kini belum bergerak karena muatannya ditujukan ke Iran, sementara kapal pengangkutnya belum tiba. Penumpukan ini membuat jalur darat mulai dipertimbangkan sebagai pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada pengiriman laut yang semakin sulit diprediksi.

Situasi di Karachi juga memperlihatkan bagaimana gangguan di satu titik pelayaran bisa berimbas lebih luas pada rantai pasok. Saat kapal tertunda, barang ikut berhenti, biaya logistik naik, dan pengirim harus mencari rute baru yang masih mungkin ditempuh.

Karachi menjadi titik macet bagi muatan tujuan Iran

Pelabuhan Karachi, yang merupakan pelabuhan terbesar di Pakistan, kini menanggung kontainer dalam jumlah besar yang belum bisa dikirim ke tujuan akhir. Isi muatan tidak dirinci, tetapi seluruhnya disiapkan untuk pasar Iran.

Masalah utama muncul karena kapal pengangkut belum tiba sesuai jadwal. Dalam kondisi normal, jalur laut menjadi pilihan paling efisien, namun kali ini situasinya justru berubah menjadi sumber ketidakpastian bagi arus barang.

Tekanan di Selat Hormuz ikut mempersempit pilihan

Hambatan di Karachi tidak bisa dipisahkan dari memburuknya situasi di Selat Hormuz. Iran sebelumnya menerapkan sistem akses untuk mengatur kapal yang melintas sekaligus menarik pembayaran tol, tetapi pembatasan transit membuat banyak kapal tidak bisa bergerak normal ke dan dari pelabuhan Iran.

Dampaknya tidak hanya terasa pada ekspor. Impor barang penting seperti pangan dan kebutuhan lain juga ikut terdampak, sehingga arus dagang Iran menjadi semakin sulit diprediksi.

Javed Hassan, analis keuangan dan kebijakan sekaligus penasihat Centre for Research and Security Studies di Islamabad, menilai kapasitas penyimpanan Iran bisa cepat penuh jika arus tertentu terputus. Ia mengatakan kondisi semacam itu dapat memicu penghentian produksi, menekan pendapatan ekspor, dan melemahkan ketahanan ekonomi.

Jalur darat mulai diperdebatkan

Dokumen yang dilihat Al Jazeera menunjukkan adanya pembicaraan antara kalangan industri serta pejabat Pakistan dan Iran mengenai jalur darat sepanjang sekitar 900 kilometer di perbatasan kedua negara. Opsi ini dibahas untuk memindahkan kontainer yang tertahan di Karachi tanpa bergantung penuh pada jalur laut.

Pejabat Pakistan mengonfirmasi bahwa konsultasi tersebut memang berlangsung, meski belum ada keputusan final. Dalam skema yang dibahas, truk Pakistan akan membawa muatan hingga perbatasan, lalu transportasi Iran melanjutkan pengiriman ke tujuan akhir di dalam negeri.

Dokumen yang sama juga menyebut Iran bersedia membayar lebih kepada sopir truk Pakistan yang membawa muatan sampai tujuan akhir di wilayah Iran. Meski begitu, jalur darat tetap dipandang lebih lambat dan lebih mahal dibanding pengiriman lewat laut.

Akses laut belum tertutup, tetapi semakin selektif

Status Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup, namun aksesnya semakin ketat. Iran masih memberi izin kepada kapal dari negara yang dinilai sejalan dengannya, termasuk Pakistan, Malaysia, dan Irak, tanpa biaya transit, umumnya setelah ada komunikasi diplomatik yang tenang.

Kapal dari negara lain, termasuk India, juga masih dapat melintas, tetapi harus memenuhi syarat tambahan seperti dokumen rinci dan izin awal. Menurut laporan Lloyd’s List, ada pula pembayaran yang dilakukan dalam yuan China di luar sistem dolar AS, dan dalam beberapa kasus disebut penggunaan mata uang kripto.

Hamidreza Haji-Babai, wakil ketua kedua parlemen Iran, mengatakan pendapatan awal dari tol kapal yang melintasi Selat Hormuz sudah disetor ke Bank Sentral Iran. Pernyataan itu menjadi konfirmasi resmi pertama dari Iran terkait pungutan tol pelayaran, meski besaran dananya belum diungkap.

Biaya pengiriman ikut terdorong naik

Selain persoalan akses, faktor keamanan ikut menambah beban pengiriman. Mohammed Rajpar, ketua Pakistan Ship’s Agents Association, mengatakan premi asuransi risiko perang naik dari sekitar 0,12 persen menjadi sekitar 5 persen dari nilai kapal, jika asuransi masih tersedia.

Untuk very large crude carrier, biaya itu masih mungkin ditanggung karena kapal dapat membawa sampai dua juta barel minyak mentah dengan nilai sekitar US$200 juta. Namun bagi pengiriman peti kemas, tekanan biayanya jauh lebih berat karena margin tipis dan jadwal distribusi barang tidak mudah diubah.

Dalam kondisi seperti ini, minyak masih bisa bergerak secara selektif, sedangkan pengiriman lain cenderung tertahan atau dialihkan. Karena itu, jalur darat melalui Pakistan kini muncul sebagai opsi yang paling realistis untuk meredakan kemacetan logistik Iran, meski belum tentu menjadi jawaban cepat bagi 3.000 kontainer yang masih tertahan di Karachi.

Baca Juga

Back to top button