Bagi Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Singapore Open 2026 bukan sekadar turnamen lain dalam kalender mereka. Pasangan ganda putra Indonesia itu datang dengan satu pekerjaan rumah yang sangat spesifik, yakni menyesuaikan diri dengan lapangan berangin di Singapore Indoor Stadium.
Kondisi arena membuat mereka harus mengubah pendekatan sejak masa persiapan di Indonesia. Fokus mereka tidak hanya pada fisik dan teknik, tetapi juga pada kebiasaan bermain agar lebih cocok dengan karakter lapangan dan shuttlecock yang lebih kencang di Singapura.
Fajar menilai hembusan angin di arena itu cukup terasa dan langsung memengaruhi cara bermain. Karena itu, latihan mereka diarahkan supaya shuttlecock yang digunakan di Indonesia tidak terasa asing saat pertandingan benar-benar dimulai.
Penyesuaian semacam ini mereka anggap penting untuk menjaga kontrol permainan sejak awal laga. Dengan persiapan yang dibuat mendekati situasi di Singapura, mereka ingin masuk lapangan tanpa kejutan yang mengganggu ritme permainan.
Fikri juga menyampaikan bahwa program latihan mereka sudah disesuaikan dengan kondisi shuttlecock dan lapangan di sana. Ia berharap hasil undian lawan, atau draw yang sudah keluar, dapat memberi jalan yang lebih baik untuk perjalanan mereka di turnamen itu.
Singapore Open 2026 punya arti penting lain karena Fajar/Fikri termasuk dalam daftar pemain yang wajib tampil. Fajar menegaskan bahwa sebagai committed player, mereka harus turun di Singapore Open dan Indonesia Open.
Di saat yang sama, pasangan ini juga membawa catatan dari Piala Thomas 2026. Untuk pertama kalinya, tim putra Indonesia gagal lolos dari fase penyisihan grup, dan hasil itu ikut menjadi bahan evaluasi bagi Fajar/Fikri.
Fajar tidak ingin kegagalan tim terbawa ke penampilan mereka di lapangan. Menurutnya, setiap pemain tetap memiliki target pribadi yang harus dijaga agar perjalanan karier tidak ikut terganggu oleh hasil di ajang beregu.
Sebagai kapten tim Indonesia, Fajar memandang evaluasi itu sebagai bagian dari proses bangkit. Ia ingin perbaikan segera dilakukan supaya performa terbaik bisa muncul lagi ketika mereka kembali tampil di turnamen individu.
Karena waktu persiapan terbatas, mereka juga harus menyusun agenda dengan lebih selektif. Fajar/Fikri memilih melewatkan Thailand Masters 2026 dan Malaysia Masters 2026 agar energi mereka lebih terfokus pada target yang lebih besar.
Keputusan itu membuat Singapore Open dan Indonesia Open ditempatkan sebagai prioritas utama. Fajar bahkan menegaskan bahwa mereka tidak ingin datang ke Indonesia Open dengan posisi hanya berada di urutan ketiga atau keempat dalam daftar prioritas.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak semata-mata mengejar jam terbang. Kualitas persiapan tetap dijaga agar mereka lebih siap saat memasuki turnamen yang dianggap paling penting.
Dengan modal penyesuaian lapangan, latihan yang diubah mengikuti karakter shuttlecock, serta evaluasi dari Piala Thomas, Fajar/Fikri membawa bekal yang cukup spesifik ke Singapore Open 2026. Tantangan yang mereka hadapi bukan hanya lawan di seberang net, tetapi juga kecepatan mereka menyatu dengan karakter arena di Singapura.





