Di tengah pasar perumahan yang justru dipenuhi bangunan tak berpenghuni, sejumlah pemerintah daerah di Jepang mulai menawarkan hunian gratis dengan syarat tertentu. Langkah ini muncul sebagai cara agar rumah-rumah yang dibiarkan kosong tidak terus menjadi beban.
Fenomena tersebut kini tidak hanya terjadi di wilayah pedesaan. Rumah kosong juga makin banyak terlihat di kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Nagoya, sehingga masalahnya berubah menjadi isu nasional yang jauh lebih luas.
Data Kementerian Dalam Negeri Jepang menunjukkan ada lebih dari 9 juta rumah kosong di negara itu. Jumlah tersebut setara sekitar 13,8 persen dari total pasokan perumahan nasional, dan proyeksinya disebut dapat memburuk dalam satu dekade ke depan.
Masalah yang tidak lagi milik desa
Selama ini, rumah kosong atau akiya sering dikaitkan dengan desa yang ditinggalkan penduduknya. Namun, gambaran itu kini tidak lagi cukup menggambarkan situasi yang terjadi di Jepang.
Banyak bangunan masih berdiri, tetapi tidak lagi menarik bagi pembeli baru. Sebagian lain kehilangan fungsi ekonominya karena tidak lagi layak dipakai secara optimal.
Populasi menua, rumah ikut ditinggalkan
Salah satu pendorong terbesar dari penumpukan rumah kosong adalah penyusutan populasi. Jumlah penduduk Jepang saat ini berada di kisaran 122 juta orang, atau sekitar 4 juta lebih sedikit dibandingkan 20 tahun lalu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan populasi Jepang bisa turun di bawah 100 juta pada 2050. Pada saat yang sama, sekitar 30 persen penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun, sehingga banyak rumah ditinggalkan saat pemiliknya pindah ke fasilitas perawatan atau tinggal bersama keluarga.
Urbanisasi membuat rumah keluarga kehilangan penghuni
Arus perpindahan generasi muda ke kota besar ikut memperbesar jumlah rumah kosong. Kondisi ini terutama terasa di daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan, karena rumah keluarga di pedesaan ditinggalkan ketika anak-anak memilih menetap di tempat lain untuk mencari pekerjaan.
Dalam banyak kasus, rumah tersebut tidak memiliki penerus yang mau menempatinya. Properti itu tetap menjadi aset keluarga, tetapi nilainya tidak lagi menghasilkan keuntungan ekonomi yang berarti.
Karakter pasar properti Jepang ikut mempercepat masalah
Situasi rumah kosong di Jepang juga dipengaruhi oleh sifat pasar propertinya. Rumah di Jepang cenderung cepat mengalami penurunan nilai dan sering dianggap kurang bernilai setelah beberapa dekade.
Rata-rata umur bangunan tempat tinggal di Jepang hanya sekitar 32 tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibanding Amerika Serikat yang sekitar 55 tahun dan Inggris yang sekitar 77 tahun.
Rumah warisan kerap berubah menjadi beban
Bagi banyak keluarga, rumah lama yang diwariskan tidak selalu menjadi aset yang mudah dipertahankan. Biaya perawatan dan pajak membuat properti seperti ini sering terasa membebani, terutama jika lokasinya jauh dari pusat aktivitas.
Sebagian rumah tua juga dibangun pada periode setelah Perang Dunia II dengan standar konstruksi yang terburu-buru. Faktor gempa besar turut memengaruhi kualitas bangunan pada masa tertentu, sehingga banyak rumah lama makin sulit dipertahankan.
Upaya pemerintah daerah belum menyentuh akar persoalan
Untuk menekan jumlah rumah kosong, sejumlah pemerintah daerah memakai akiya bank, yaitu skema yang mempertemukan pemilik rumah kosong dengan calon pembeli. Ada pula insentif renovasi dan program pemberian rumah gratis dengan syarat tertentu agar bangunan bisa dihuni kembali.
Meski begitu, berbagai upaya itu belum dianggap cukup untuk mengatasi sumber masalahnya. Para ahli menilai penurunan populasi, perubahan struktur sosial, dan karakter pasar properti bergerak bersamaan sehingga persoalan rumah kosong terus berulang.
Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi sebagian pihak. Ribuan rumah dijual sangat murah, bahkan di bawah 10 ribu dolar AS, dan sebagian investor asing memanfaatkannya untuk renovasi lalu menjadikannya properti sewa atau akomodasi wisata.
Source: www.viva.co.id




