Freddie Woodman berpotensi mendapat momen langka untuk turun sebagai starter Liverpool saat menghadapi Crystal Palace di Anfield. Situasi itu muncul di tengah krisis pada posisi penjaga gawang, yang membuat staf pelatih harus mencari opsi paling siap untuk mengisi bawah mistar.
Jika kesempatan itu benar-benar datang, laga tersebut akan menjadi penampilan perdana Woodman sebagai starter Liverpool di Premier League. Kiper berusia 29 tahun itu sebelumnya hanya sempat dimainkan sebentar ketika derby Merseyside melawan Everton.
Peluang Woodman terbuka setelah Giorgi Mamardashvili disebut mengalami masalah lutut saat laga melawan Everton. Mengacu pada laporan Detik Sport, kiper asal Georgia itu diperkirakan absen sekitar dua pekan, sementara Alisson Becker masih menjalani pemulihan cedera hamstring.
Kondisi itu membuat Liverpool harus menata ulang rencana di sektor paling belakang. Dalam situasi seperti ini, tim memerlukan penjaga gawang yang bukan hanya siap secara fisik, tetapi juga cukup tenang menghadapi tekanan laga besar di kandang.
Woodman masuk sebagai kandidat paling realistis untuk mengisi kekosongan itu. Ia sudah berada dalam rotasi tim dan mendapatkan menit bermain ketika Mamardashvili tidak bisa melanjutkan pertandingan melawan Everton.
Bagi Woodman sendiri, peluang tampil di Liga Inggris bersama Liverpool bukan hal kecil. Sepanjang kariernya di kompetisi tersebut, ia baru mencatat empat penampilan dan semuanya terjadi pada awal musim 2021/2022.
Pengalaman itu membuat kemungkinan turun sejak menit awal di Anfield terasa jauh lebih spesial. Woodman juga sempat mengakui adanya rasa gugup saat dimainkan melawan Everton, namun ia menilai perasaan itu justru bisa menjadi dorongan agar tampil lebih fokus.
“Jujur saya sedikit gugup (saat main lawan Everton),” kata Woodman. “Tapi saya rasa gugup itu justru membuat Anda semangat, ingin tampil sebaik mungkin dan tidak mengecewakan orang-orang.”
Di tengah tekanan seperti itu, Liverpool tentu membutuhkan kiper yang mampu menjaga ketenangan. Keputusan staf pelatih akan sangat bergantung pada kesiapan akhir Mamardashvili dan Alisson sebelum laga melawan Crystal Palace.
Laga ini juga membawa cerita personal bagi Woodman. Ia tumbuh sebagai pendukung Crystal Palace, pernah belajar di akademi klub itu, dan bahkan sempat menjadi ball-boy di sana.
Ikatan tersebut membuat pertandingan di Anfield terasa lebih emosional dari biasanya. Woodman pun mengakui bahwa kembali tampil di Premier League bersama Liverpool, terlebih melawan klub yang pernah dekat dengannya sejak kecil, akan menjadi pengalaman yang luar biasa.
“Luar biasa tentunya jika bisa bermain lagi di Premier League dan Liverpool. Saya besar sebagai fans Palace, saya jadi ball-boy dan bermain lawan mereka di Carabao Cup,” ucap Woodman.
Meski ada rasa emosional, Woodman tetap menempatkan kepentingan tim di atas segalanya. Ia berharap Mamardashvili dan Alisson lekas pulih, sambil menegaskan bahwa dirinya hanya perlu tetap siap bila dipercaya turun sebagai starter.
“Semoga saja Giorgi bakal pulih, lalu Ali juga. Dia kiper terbaik dunia, saya ingin dia pulih. So, kita tunggu saja hari Sabtu nanti. Saya cuma perlu siap-siap andaikan saya benar-benar bermain,” ujarnya.
Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pasti, perhatian kini tertuju pada keputusan akhir staf pelatih Liverpool. Jika dipilih untuk mengawal gawang, Woodman akan menjalani laga besar dengan beban tanggung jawab sekaligus latar emosional yang kuat di Anfield.





