Mandalika Kehilangan 12 Mobil GT3, GT World Challenge Asia Tetap Berjalan di Tengah Tekanan Geopolitik

Sirkuit Internasional Mandalika tetap bersiap menyambut GT World Challenge Asia meski jumlah mobil GT3 yang diperkirakan tampil turun cukup tajam. Dari proyeksi 34 unit, angka itu kini mengerucut menjadi 22 mobil, dan perubahan tersebut terjadi menjelang balapan yang dijadwalkan berlangsung pada 1–3 Mei.

Perubahan cepat itu disebut berkaitan dengan kendala geopolitik dan persoalan logistik global. Direktur Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandhi Satria menyebut jumlah mobil masih berada di 24 unit dua hari sebelum pernyataannya, sebelum data terbaru menunjukkan hanya 22 mobil GT3 yang siap turun lintasan di Mandalika.

Tekanan dari luar lintasan

Penurunan jumlah peserta ini menunjukkan bahwa ajang balap internasional tidak hanya dipengaruhi kesiapan tim dan performa mobil. Faktor lintas negara, termasuk situasi geopolitik dan distribusi logistik, bisa langsung berdampak pada keikutsertaan peserta di sebuah seri balap kelas dunia.

Meski begitu, penyelenggara memastikan agenda utama tetap berjalan sesuai rencana. Penyesuaian komposisi grid memang harus dilakukan, tetapi penyelenggaraan event tidak berubah arah karena jumlah mobil yang hadir lebih sedikit dari perkiraan awal.

Di sisi lain, pengurangan mobil tidak berarti jumlah pembalap ikut terpangkas drastis. Dengan format dua pembalap per mobil, total pembalap yang datang diperkirakan masih berada di kisaran 40 hingga 44 orang.

Kesiapan sirkuit tetap dijaga

MGPA menegaskan bahwa kesiapan teknis lintasan tidak terdampak oleh perubahan jumlah peserta. Seluruh perangkat balapan sudah diperiksa dan dipastikan berfungsi, mulai dari lampu start, digital flag, lap panel, sistem pencatat waktu, race control, CCTV, hingga alat pemadam kebakaran.

“Yang berhubungan dengan race tidak ada masalah,” kata Priandhi. Pernyataan itu menegaskan bahwa pengurangan peserta tidak mengganggu kesiapan operasional sirkuit untuk menggelar perlombaan.

Pengecekan ulang juga dilakukan setelah Pertamina Mandalika Racing Series selesai digelar pada minggu sebelumnya. Setelah ajang itu, seluruh perangkat kembali ditinjau agar GT World Challenge Asia tetap berlangsung dengan standar yang sama.

Persaingan GT3 tetap jadi daya tarik

Balapan di Mandalika tetap menampilkan mobil GT3 dari sejumlah merek dunia, termasuk Mercedes dan Audi. Kelas ini dikenal sebagai arena persaingan lintas merek dan lintas mesin, sehingga berbagai pabrikan bisa bertarung dalam format yang sama.

Agar kompetisi tetap seimbang, regulasi Balance of Performance atau BoP diterapkan. Aturan ini menjadi bagian penting dalam kelas GT3 karena membantu menyamakan peluang antartim meski dasar teknologi mobil berbeda.

Dalam praktiknya, BoP menjaga agar pertarungan di lintasan tetap kompetitif. Hasil akhir tidak hanya ditentukan oleh nama besar pabrikan, tetapi juga oleh strategi, eksekusi tim, dan konsistensi pembalap sepanjang balapan.

Dampak ekonomi bagi daerah

Selain menjadi ajang olahraga, GT World Challenge Asia juga memberi nilai ekonomi bagi Nusa Tenggara Barat. Kehadiran pembalap, kru, dan penggemar dari berbagai negara dinilai dapat mendorong aktivitas pariwisata dan jasa pendukung di sekitar Mandalika.

Kelompok tamu seperti ini disebut memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi. Karena itu, event balap internasional di Mandalika dipandang bukan hanya sebagai kompetisi motorsport, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang ikut menyerap aktivitas di luar arena balap.

Walau jumlah mobil tidak lagi sesuai proyeksi awal, daya tarik event tetap terjaga. Kehadiran 22 mobil GT3 dengan puluhan pembalap internasional masih memberi bobot penting bagi Mandalika sebagai tuan rumah ajang balap kelas dunia.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button