Ngawi menargetkan lonjakan panen padi yang jauh melampaui luas sawah yang tersedia saat ini. Pemerintah Kabupaten Ngawi membidik luas panen 169.000 hektare untuk 2026, sementara baku sawah yang ada baru sekitar 49.000 hektare.
Karena keterbatasan lahan itulah, strategi utama diarahkan pada intensifikasi, bukan ekspansi besar-besaran. Salah satu langkah paling penting adalah menaikkan Indeks Pertanaman atau IP hingga 2,8 agar satu hamparan sawah bisa dipanen lebih sering dalam setahun.
Fokus utama: panen lebih sering dari lahan yang sama
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Supardi, menempatkan percepatan masa tanam sebagai kunci untuk mengejar target tersebut. Dengan cara itu, lahan yang sama tidak hanya dijaga produktif, tetapi juga didorong menghasilkan panen lebih berulang.
Pemkab Ngawi juga menguatkan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan untuk mendukung kenaikan produksi tanpa harus membuka lahan baru secara signifikan. Di saat yang sama, produktivitas gabah per hektare ikut menjadi perhatian agar hasil panen benar-benar naik dari areal yang sudah tersedia.
Antisipasi cuaca jadi bagian penting
Di tengah target besar itu, pemerintah daerah juga harus bersiap menghadapi anomali cuaca El Nino yang diprediksi mencapai puncak pada Juli-Agustus 2026. Karena itu, wilayah rawan kekeringan dipetakan lebih awal agar antisipasi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Pada titik-titik yang paling kritis, program electricity for farming atau e-farm dioptimalkan lewat penggunaan sumur submersible. Langkah ini disiapkan untuk membantu kebutuhan air ketika kondisi cuaca menekan produksi pertanian.
Lahan yang bergantung air waduk ikut diawasi
Perhatian khusus juga diberikan kepada lahan pertanian yang bergantung pada sumber air waduk, termasuk Waduk Sangiran dan Waduk Pondok. Di sejumlah area, ketergantungan pada curah hujan masih tinggi sehingga pengelolaan air harus dilakukan dengan cermat pada musim tanam.
Supardi menegaskan pengaturan air menjadi bagian penting untuk menekan risiko gagal panen. Karena itu, musim tanam di daerah irigasi waduk diminta mendapat perhatian khusus agar suplai air tetap optimal.
Modal produksi yang sudah ada
Data DKPP Kabupaten Ngawi menunjukkan produksi padi di wilayah ini rata-rata mencapai 770 ribu ton gabah kering giling per tahun. Angka tersebut menjadi modal penting saat pemerintah daerah menyiapkan strategi intensifikasi untuk mengejar target 2026.
Dengan kombinasi IP 2,8, penguatan e-farm, serta pengelolaan air yang lebih ketat, Pemkab Ngawi optimistis target panen bisa dicapai. Daerah ini tetap menempatkan posisinya sebagai lumbung padi yang menopang ketahanan pangan nasional.
Source: jatim.antaranews.com




