Segelas susu yang diminum masyarakat menyimpan kerja panjang yang dimulai jauh sebelum produk itu tiba di meja makan. Mutu nutrisi susu tidak hadir begitu saja, melainkan dijaga dari peternakan melalui praktik yang baik, berkelanjutan, dan penguatan kapasitas peternak.
Di tingkat hulu, perhatian pada kualitas menjadi penentu agar susu yang sampai ke konsumen tetap aman, higienis, dan bernutrisi. Karena itu, pembahasan soal susu tidak bisa dilepaskan dari peran peternak yang menjaga mutu sejak awal rantai produksi.
Peran peternak di garis depan mutu
Gambaran itu terlihat dari Rumini, peternak sapi perah perempuan yang tergabung dalam Young Progressive Farmers Academy atau YPFA. Ia menilai produksi susu berkualitas tidak bisa dicapai secara instan karena peternak perlu terus belajar dan beradaptasi.
Rumini menyebut para peternak kini berupaya meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas susu segar melalui praktik yang lebih modern dan berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa pendampingan memberi ruang bagi peternak untuk berkembang dan memberi kontribusi lebih besar bagi industri susu nasional.
“Didampingi Frisian Flag Indonesia, kami terus membangun diri menjadi peternak sapi perah yang lebih baik,” kata Rumini. Ia menambahkan bahwa pengelolaan peternakan yang berkelanjutan ikut mendukung masa depan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Rantai panjang sebelum susu diminum
Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, menegaskan bahwa kualitas susu yang dinikmati masyarakat merupakan hasil dari rantai produksi yang panjang. Proses itu dimulai dari peternakan lalu berlanjut ke pengolahan modern di pabrik.
Menurut Prof. Epi, teknologi seperti UHT membantu menjaga kualitas makro dan mikro nutrien dalam susu. Teknologi tersebut juga membuat produk lebih aman dan lebih mudah dijangkau masyarakat di berbagai daerah.
Ia menilai penguatan produksi susu segar nasional perlu ditopang ekosistem yang terintegrasi. Dalam pandangannya, kolaborasi antara peternak, industri, akademisi, dan pemerintah menjadi kunci agar kualitas susu tetap terjaga sampai ke tangan konsumen.
Pendampingan sebagai bagian dari ekosistem
Frisian Flag Indonesia ikut mendorong penguatan ekosistem itu melalui peringatan World Milk Day. Marketing Director FFI, Intan Ayu Kartika, mengatakan bahwa upaya membangun generasi yang lebih sehat harus dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari.
“World Milk Day selalu menjadi momentum penting bagi kami untuk kembali mengajak keluarga Indonesia membangun generasi yang lebih sehat, penuh semangat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari, termasuk minum susu,” ujar Intan. Pernyataan itu menegaskan bahwa konsumsi susu bergantung pada dukungan produksi yang kuat di hulu.
Di sisi peternak, pendampingan juga memberi kesempatan belajar untuk menerapkan praktik yang lebih baik. Pola ini penting karena produksi susu segar nasional membutuhkan peningkatan kualitas dan produktivitas secara konsisten.
Nutrisi dijaga sejak awal proses
Kisah para peternak menunjukkan bahwa susu bukan hanya produk konsumsi, tetapi hasil dari keterampilan dan disiplin yang terjaga sejak awal. Dari perawatan ternak, pengelolaan peternakan, hingga pengolahan modern, setiap tahap ikut menentukan mutu akhir susu.
World Milk Day 2026 menjadi pengingat bahwa segelas susu adalah hasil kerja panjang banyak pihak. Di baliknya ada peternak yang menjaga mutu dari hulu agar nutrisi tetap utuh dan produk aman dikonsumsi.
Source: www.suara.com




