Papua Tengah Tak Bisa Bergantung Pada Tambang Saja, Sociolead Dorong Mimika Bangun Pariwisata Dan Kreatif

Mimika tengah diarahkan untuk melihat masa depannya di luar bayang-bayang tambang. Sociolead menilai kabupaten di Papua Tengah itu perlu menyiapkan sumber ekonomi lain agar tidak terlalu rentan ketika satu sektor mendominasi pergerakan daerah.

Dalam pandangan lembaga itu, pariwisata dan ekonomi kreatif bisa tumbuh berdampingan dengan industri tambang tanpa saling meniadakan. Karena itu, penguatan sektor non-ekstraktif dipandang penting agar Mimika memiliki fondasi ekonomi yang lebih beragam dan lebih tahan terhadap perubahan.

Dorongan untuk tidak bergantung pada satu sektor

Direktur Sociolead, Anjar Budiani, menyoroti bahwa struktur ekonomi Mimika masih sangat dipengaruhi oleh operasional PT Freeport Indonesia. Ia menilai kontribusi perusahaan tambang tersebut memang besar, tetapi daerah tidak seharusnya berhenti pada satu sumber penggerak ekonomi saja.

Anjar menekankan perlunya diversifikasi ekonomi sebagai langkah yang lebih aman untuk jangka panjang. Pesan yang ia sampaikan sederhana, yakni jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang, karena ketergantungan tunggal membuat daerah lebih rapuh saat terjadi perubahan.

Pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai ruang tumbuh baru

Sociolead mendorong pemerintah daerah memberi perhatian lebih besar pada sektor yang selama ini belum menjadi arus utama. Pariwisata dan ekonomi kreatif disebut bisa menjadi penopang baru yang membantu membuka aktivitas ekonomi lebih luas di luar sektor tambang.

Keduanya dinilai bisa saling menguatkan. Pariwisata memberi peluang perputaran ekonomi dari kunjungan dan pengalaman, sementara ekonomi kreatif membuka ruang bagi produk, ide, dan layanan yang lahir dari masyarakat lokal.

Model seperti itu dianggap lebih sehat karena sektor baru dapat berkembang tanpa harus meniadakan peran industri yang sudah ada. Dengan cara ini, Mimika tetap dapat menerima manfaat dari keberadaan industri tambang sambil menyiapkan sumber pertumbuhan lain.

Budaya lokal dipandang punya nilai ekonomi

Sociolead juga menilai kekuatan budaya sehari-hari masyarakat Papua Tengah belum digarap secara serius. Padahal, menurut Anjar, budaya bukan hanya dimiliki sebagai identitas sosial, tetapi juga bisa menjadi daya tarik yang memperkaya pengalaman wisata.

Pendekatan pariwisata berbasis budaya dinilai membuat Mimika punya pembeda yang kuat dibanding daerah lain. Identitas lokal justru dapat menjadi keunggulan saat daerah lain berlomba menawarkan destinasi serupa.

Pengembangan semacam ini juga dianggap tidak harus mengubah tatanan sosial warga secara ekstrem. Sebaliknya, karakter lokal dapat dijaga tetap hidup dan sekaligus memberi manfaat ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Peran generasi muda dan ekonomi digital

Dalam arah pembangunan baru itu, generasi muda ditempatkan sebagai unsur yang penting. Anjar menilai keberlanjutan pariwisata dan ekonomi kreatif sangat bergantung pada kemampuan pemuda beradaptasi dengan perubahan.

Ia juga melihat generasi muda Papua sudah akrab dengan dunia digital. Kondisi tersebut membuat ekonomi kreatif dan ekonomi digital lebih mudah diadopsi, sekaligus membuka peluang munculnya ekosistem ekonomi yang lebih modern di daerah.

Keterhubungan antara kreativitas, pariwisata, dan teknologi dinilai dapat memperluas akses ekonomi bagi anak muda. Pada saat yang sama, kombinasi itu disebut mampu memperkuat daya saing Mimika saat kebutuhan pasar terus berubah.

Penguatan sumber daya manusia ikut terdorong

Sociolead menilai dorongan ke sektor pariwisata dan kreatif tidak hanya soal menambah sumber pendapatan. Arah ini juga dipandang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena membuka kebutuhan keterampilan baru yang relevan dengan masa depan.

Gagasan tersebut turut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Mimika Pasca-Tambang” yang menghadirkan sejumlah narasumber lain. Pengusaha muda Painus Magai, akademisi Yohanis Nussy, dan Direktur LAPENMI HMI Muhardi ikut memberi pandangan mengenai arah ekonomi Mimika ke depan.

Diskusi itu memperlihatkan bahwa masa depan Mimika tidak cukup dibaca dari besarnya peran tambang semata. Pariwisata, budaya, kreativitas, dan generasi muda kini semakin dipandang sebagai bagian penting dari strategi pembangunan daerah yang lebih mandiri.

Baca Juga

Back to top button