Penantian 16 Tahun Berakhir, Afrika Selatan Kini Memburu Langkah Terkaya Di Piala Dunia

Afrika Selatan datang ke Piala Dunia 2026 dengan bekal yang tidak dimiliki pada tiga edisi sebelumnya: tiket lolos yang diraih setelah melewati jalur kualifikasi. Bagi Bafana Bafana, capaian ini menutup penantian 16 tahun dan sekaligus membuka harapan baru untuk menembus batas yang selama ini selalu tertahan.

Kembalinya mereka terasa lebih penting karena Afrika Selatan sempat absen pada tiga turnamen terakhir. Di bawah Hugo Broos, tim ini tidak hanya kembali ke panggung terbesar, tetapi juga membawa skuad yang dibentuk lewat proses regenerasi yang berjalan lebih rapi dan bertahap.

Fondasi yang dibangun ulang

Broos mulai menata ulang tim sejak ditunjuk pada Mei 2021. Ia memberi ruang lebih besar kepada pemain muda, lalu menjaga keseimbangan dengan nama-nama berpengalaman agar tim tetap stabil dalam laga-laga penting.

Dari proses itu muncul pemain seperti Thalente Mbatha, Oswin Appollis, dan Evidence Makgopa. Mereka kemudian ikut mendorong Afrika Selatan melewati kualifikasi CAF yang ketat dan penuh tekanan.

Hasilnya terlihat ketika Afrika Selatan menutup Grup C di posisi teratas. Mereka mencatat lima kemenangan, tiga imbang, dan dua kekalahan sebelum memastikan tiket lewat kemenangan 3-0 atas Rwanda.

Persaingan di grup tidak berjalan mudah. Nigeria dan Benin terus memberi tekanan, sehingga kemenangan atas Rwanda menjadi momen penentu yang mengantar Bafana Bafana ke putaran final.

Makna besar di balik kelolosan

Lolos ke Piala Dunia 2026 juga punya arti tersendiri karena ini menjadi kali pertama Afrika Selatan meraih tiket melalui jalur kualifikasi sejak 2002. Situasi itu memperlihatkan adanya konsistensi yang selama ini dicari oleh tim nasional tersebut.

Bafana Bafana berdiri pada 1991 di bawah naungan South African Football Association atau SAFA. Mereka bermarkas di Johannesburg dan memainkan laga kandang di FNB Stadium, atau Soccer City, yang berkapasitas sekitar 94.736 penonton.

Dalam pembaruan terbaru, Afrika Selatan menempati peringkat FIFA ke-60. Tim ini identik dengan warna kuning dan hijau, dengan Hugo Broos sebagai pelatih dan Ronwen Williams sebagai kapten.

Perjalanan modern mereka juga lekat dengan momen bersejarah setelah era isolasi olahraga akibat apartheid berakhir. Laga internasional pertama digelar pada 7 Juli 1992 melawan Kamerun dan berakhir 1-0 untuk Afrika Selatan lewat gol Doctor Khumalo.

Rekam jejak di panggung besar

Di Afrika, Afrika Selatan pernah memberi kejutan besar saat menjuarai Piala Afrika 1996 di kandang sendiri. Mereka kemudian finis runner-up pada 1998 dan menutup turnamen 2000 di peringkat ketiga.

Di level dunia, mereka tampil di Piala Dunia 1998, 2002, dan 2010 sebelum kembali memastikan tempat pada 2026. Dari empat keikutsertaan yang tercatat termasuk edisi terbaru itu, Bafana Bafana belum pernah menembus fase gugur.

Secara keseluruhan, Afrika Selatan sudah memainkan sembilan laga Piala Dunia. Catatannya adalah dua kemenangan, empat imbang, dan tiga kekalahan, dengan 11 gol dicetak serta 16 kali kebobolan.

Pencapaian terbaik mereka terjadi pada Piala Dunia 2002 saat finis di posisi ke-17. Saat itu Afrika Selatan bermain imbang 2-2 dengan Paraguay, menang 1-0 atas Slovenia, lalu kalah 2-3 dari Spanyol dan tersingkir karena selisih gol.

Jejak yang masih diingat publik

Piala Dunia 2010 masih menjadi salah satu bab paling dikenal dalam sejarah mereka. Siphiwe Tshabalala mencetak gol pembuka melawan Meksiko, yang juga menjadi gol pertama tuan rumah di turnamen tersebut.

Pada edisi yang sama, Afrika Selatan mencatat kemenangan terbesar mereka di Piala Dunia dengan menaklukkan Prancis 2-1 pada fase grup. Bongani Khumalo dan Katlego Mphela menjadi penentu dalam laga yang memperkuat citra mereka sebagai tim yang mampu menghadirkan kejutan.

Sejumlah nama juga meninggalkan jejak kuat dalam catatan Afrika Selatan di turnamen global. Quinton Fortune, Benni McCarthy, Lucas Radebe, dan Aaron Mokoena sama-sama memegang rekor enam penampilan di Piala Dunia.

Dari sisi gol, Shaun Bartlett dan Benni McCarthy sama-sama mencetak dua gol. McCarthy juga menjadi satu-satunya pemain Afrika Selatan yang mencetak gol pada dua edisi Piala Dunia yang berbeda.

Skuad baru dan tantangan berikutnya

Untuk Piala Dunia 2026, Broos membawa perpaduan pemain senior dan wajah muda. Ronwen Williams tetap dipercaya sebagai kapten, sementara daftar penjaga gawang diisi Ronwen Williams, Ricardo Goss, dan Sipho Chaine.

Lini belakang berisi Aubrey Modiba, Khuliso Mudau, Nkosinathi Sibisi, Mbekezeli Mbokazi, Ime Okon, Samukele Kabini, Khulumani Ndamane, Thabang Matuludi, Bradley Cross, dan Olwethu Makhanya. Di tengah ada Teboho Mokoena, Sphephelo “Yaya” Sithole, Thalente Mbatha, dan Jayden Adams.

Untuk sektor depan, Afrika Selatan mengandalkan Themba Zwane, Lyle Foster, Evidence Makgopa, Oswin Appollis, Iqraam Rayners, Tshepang Moremi, dan Thapelo Maseko. Komposisi ini membuat mereka dinilai punya potensi lebih besar dibanding beberapa edisi sebelumnya.

Di fase grup Piala Dunia 2026, Afrika Selatan tergabung bersama Meksiko, Republik Korea, dan Republik Ceko. Mereka akan memulai perjalanan melawan Meksiko pada 12 Juni 2026 pukul 02.00 WIB di Mexico City Stadium.

Setelah itu, Afrika Selatan bertemu Republik Ceko pada 18 Juni 2026 pukul 23.00 WIB di Atlanta Stadium. Laga terakhir fase grup akan mempertemukan mereka dengan Republik Korea pada 25 Juni 2026 pukul 08.00 WIB di Estadio Monterrey.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button