Percepatan Bantuan Rumah Pascabencana di Aceh Tamiang, Rp117,96 Miliar Disalurkan untuk 4.469 Keluarga

Pemulihan rumah warga terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah mulai bergerak dengan aliran dana stimulan tahap II senilai Rp117,96 miliar. Dana ini diarahkan untuk memperbaiki hunian yang rusak ringan hingga sedang agar warga bisa segera kembali menempati rumah dengan kondisi yang lebih layak.

Penyaluran bantuan dilakukan secara hybrid dari Kantor Bupati Aceh Tamiang oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno bersama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Pola ini dipakai untuk mempercepat pencairan sekaligus menjaga agar bantuan benar-benar diterima warga yang berhak.

Fokus pada rumah yang paling cepat diperbaiki

Pemerintah menempatkan rumah rusak ringan dan sedang sebagai prioritas utama dalam tahap bantuan ini. Setiap keluarga dengan rumah rusak ringan menerima Rp15 juta, sedangkan kategori rusak sedang memperoleh Rp30 juta.

Skema itu dipilih agar perbaikan bisa dimulai tanpa menunggu proses pemulihan yang terlalu panjang. Dalam kondisi pascabencana, rumah yang dibiarkan terlalu lama justru berpotensi semakin sulit ditangani.

Tito Karnavian yang juga memimpin Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menegaskan pentingnya kecepatan dalam distribusi bantuan. Ia menyebut pemerintah ingin warga segera membenahi tempat tinggalnya tanpa terhambat proses yang berlarut-larut.

“Prinsip kita adalah ingin memberikan bantuan secepat mungkin,” ujar Tito.

Pendataan dibuat bertahap agar aliran bantuan tidak tersendat

Untuk menjaga pencairan tetap lancar, pemerintah memakai pendataan bertahap. Langkah ini ditempuh agar proses verifikasi di satu wilayah tidak membuat penyaluran di wilayah lain ikut tertunda.

Pola bertahap juga membantu mengurangi risiko kerusakan bangunan yang makin parah karena perbaikan tertunda terlalu lama. Dalam pemulihan pascabencana, kecepatan sering menjadi pembeda antara rumah yang masih bisa segera dibenahi dan rumah yang kondisinya terus menurun.

Tito memastikan warga yang belum masuk dalam pencairan tahap ini masih tetap punya peluang dalam pengajuan berikutnya. Namun, setiap data tetap harus diverifikasi agar bantuan tepat sasaran dan tidak salah penyaluran.

Ribuan keluarga menjadi penerima manfaat

Dana Rp117,96 miliar tersebut ditujukan untuk sekitar 4.469 kepala keluarga di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah. Jumlah itu menggambarkan besarnya kebutuhan pemulihan hunian setelah bencana hidrometeorologi melanda sejumlah kawasan di Sumatera.

Bagi warga terdampak, perbaikan rumah menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak karena hunian adalah kebutuhan dasar. Jika rumah belum pulih, aktivitas keluarga dan proses pemulihan kehidupan sehari-hari ikut tertahan.

Pratikno menegaskan bahwa bantuan ini memang disiapkan khusus untuk rumah rusak ringan dan sedang di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera. Ia juga meminta agar dana digunakan sesuai peruntukannya supaya manfaatnya benar-benar terasa di tingkat penerima.

“Ini adalah bantuan untuk rumah rusak ringan dan rusak sedang untuk tiga provinsi,” kata Pratikno.

Total bantuan pusat sudah mencapai Rp654,87 miliar

Selain penyaluran tahap II untuk Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah, pemerintah menyebut total bantuan pusat bagi tiga provinsi terdampak di Sumatera telah mencapai Rp654,87 miliar. Dari jumlah itu, penerima manfaat tercatat sebanyak 29.786 kepala keluarga.

Angka tersebut menunjukkan skala penanganan yang cukup besar dalam masa pemulihan pascabencana. Bantuan untuk rumah menjadi salah satu komponen utama karena langsung terkait dengan keselamatan, kenyamanan, dan keberlangsungan hidup warga yang kembali ke tempat tinggal mereka.

Kepala BNPB Suharyanto mengikuti proses penyaluran ini secara virtual dari Tapanuli Tengah. Sejumlah pejabat daerah juga hadir, termasuk Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dan Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi.

Kehadiran pejabat pusat dan daerah memperlihatkan koordinasi lintas lembaga dalam pemulihan pascabencana di Sumatera. Di tengah upaya tersebut, percepatan perbaikan rumah tetap menjadi langkah penting agar aktivitas warga bisa kembali berjalan lebih stabil.

Baca Juga

Back to top button