Pengungkapan praktik joki UTBK di Surabaya membuka gambaran yang lebih luas tentang cara kerja sindikat ini. Polisi kini menelusuri jaringan yang disebut bergerak lintas provinsi dan tidak berhenti di Jawa Timur.
Temuan awal menunjukkan bahwa aktivitas mereka menjangkau Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Dari pola itu, penyidik melihat adanya operasi yang rapi, terhubung, dan melibatkan banyak orang di wilayah berbeda.
Kasus ini terbongkar saat pengawas UTBK SNBT di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya pada 21 April mencurigai seorang peserta. Identitas dan foto pada dokumen peserta tersebut tidak sesuai, sehingga pemeriksaan dilanjutkan.
Hasil pemeriksaan memastikan peserta itu bukan pemilik identitas asli. Polisi menyebut orang tersebut sebagai joki yang memakai identitas milik orang lain.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengatakan jaringan ini tidak hanya menyasar kampus-kampus di Jawa Timur. Menurut dia, pengguna jasa dan lokasi aktivitas sindikat tersebar di sejumlah daerah, termasuk di luar Jawa.
Dari penelusuran awal, polisi menduga jaringan itu bekerja secara terstruktur. Pembagian peran di dalamnya disebut jelas dan saling terhubung, sehingga operasi bisa berjalan lintas daerah.
Tersangka utama berinisial K diduga menjadi pengendali jaringan. Ia disebut menerima order dari berbagai daerah dan menghubungkan para pelaku dalam praktik joki UTBK.
Dalam menjalankan aksinya, sindikat ini diduga membagi tugas ke beberapa peran. Ada pencari klien, broker, joki ujian, dan pembuat identitas palsu.
Polisi juga menelusuri kemungkinan bahwa jaringan ini sudah aktif sejak 2017. Dugaan itu membuat penyidik harus memetakan ulang skala operasi serta alur perekrutan para pelaku.
Fokus penyidikan saat ini mengarah pada distribusi peran dan sebaran lokasi aktivitas yang disebut tidak terbatas pada satu provinsi. Kasus ini memperlihatkan bahwa praktik curang UTBK dapat berkembang menjadi sindikat antardaerah dengan jangkauan yang lebih jauh dari dugaan awal.
Source: jatim.jpnn.com




