SPPG Tembus 27 Ribu Unit, MBG Mulai Menggerakkan Ekonomi Daerah

Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis atau MBG kini sudah melampaui 27 ribu unit di seluruh Indonesia. Jaringan itu dibangun dalam waktu satu tahun empat bulan dan mulai memperlihatkan pengaruh yang melampaui urusan pemenuhan makanan.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan capaian tersebut saat berada di Kota Padang, Sumatera Barat. Ia menilai SPPG yang tersebar dari Sabang sampai Merauke telah menjadi bagian penting dari sistem MBG sekaligus ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.

Jaringan yang menopang layanan

Skala pembangunan SPPG menunjukkan bahwa MBG dijalankan dengan struktur yang besar dan terus meluas. Menurut Dadan, keberadaan jaringan ini membuat pelaksanaan program lebih teratur karena menghubungkan distribusi makanan, pengelolaan bahan baku, dan layanan di lapangan.

BGN menyebut seluruh unsur di dalam SPPG saling bekerja untuk menjaga program berjalan rutin. Unsur gizi, administrasi, dan distribusi tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang agar kebutuhan layanan di berbagai wilayah dapat terpenuhi.

Ribuan tenaga ikut bergerak

Di balik pembangunan fisiknya, BGN juga membentuk ekosistem kerja dalam jumlah besar. Saat ini, lembaga tersebut memiliki 27 ribu kepala SPPG, 27 ribu ahli gizi, 27 ribu akuntan, dan 1,1 juta relawan yang terlibat dalam program.

Komposisi itu menunjukkan bahwa MBG tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada banyak lapisan tenaga kerja. Kehadiran tenaga gizi, pengelola keuangan, dan relawan membantu operasional di lapangan berjalan lebih tertata.

Dampak belanja bahan baku di daerah

BGN mencatat efek ekonomi mulai terlihat di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Barat. Di provinsi itu terdapat 404 SPPG, dan 70 unit di antaranya berada di Kota Padang serta ikut menggerakkan aktivitas ekonomi setempat.

Dadan menyebut perputaran uang untuk kebutuhan MBG di Ranah Minang mencapai sekitar Rp400 miliar. Ia juga menjelaskan sekitar 70 persen dana yang masuk ke virtual account tiap SPPG dipakai untuk membeli bahan baku.

Aliran dana tersebut membuat program tidak berhenti pada penyediaan makanan saja. Kebutuhan bahan baku ikut menghidupkan rantai pasok lokal dan menyentuh aktivitas usaha di tingkat daerah.

Menyentuh sektor pangan dan usaha kecil

BGN menilai MBG memiliki efek yang luas bagi sektor pangan. Dadan mengatakan 95 persen bahan MBG berasal dari pertanian, sehingga program ini ikut melibatkan petani, peternak, dan nelayan.

Polanya mendorong permintaan yang terus berjalan terhadap hasil produksi lokal. Dengan begitu, kebutuhan harian dalam program justru membuka ruang bagi pasokan dari sektor pangan di daerah.

Selain itu, sekitar 20 persen anggaran MBG dialokasikan untuk biaya operasional. Dana tersebut juga dipakai untuk membayar relawan dengan kisaran gaji Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta.

Efek ke kerja dan aktivitas warga

BGN menerima laporan dari sejumlah daerah bahwa MBG ikut memberi dampak pada penurunan kemiskinan dan pengangguran. Lembaga itu juga menyebut program ini berdampak positif terhadap angka gini ratio.

Dadan menambahkan, ada warga di daerah yang mulai lebih bersemangat untuk bertani, menanam, dan memelihara ternak. Dorongan itu muncul karena kebutuhan bahan baku MBG berjalan tetap dan memerlukan pasokan yang konsisten.

Program MBG sendiri merupakan bagian dari AstaCita Presiden Prabowo Subianto. Dengan pertumbuhan SPPG yang cepat, BGN melihat program ini bukan hanya memperkuat pemenuhan gizi, tetapi juga memperluas manfaat ke sektor pangan, tenaga kerja, dan perputaran ekonomi daerah.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button