18 Daerah di Jawa Tengah Masuk Siaga Cuaca Ekstrem, Lereng dan Sungai Jadi Titik Paling Rentan

Warga di sejumlah wilayah Jawa Tengah diminta memperketat kewaspadaan karena cuaca ekstrem masih berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Peringatan ini terutama menyasar daerah lereng perbukitan, dataran tinggi, dan bantaran sungai yang lebih rentan saat hujan turun deras disertai petir dan angin kencang.

BMKG menyebut kondisi atmosfer yang belum stabil menjadi pemicu utama cuaca berisiko itu. Dampaknya tidak hanya mengancam kawasan pegunungan, tetapi juga wilayah Solo Raya dan sebagian Pantura yang kerap mengalami perubahan cuaca cepat.

18 daerah masuk area waspada

Ada 18 kabupaten dan kota di Jawa Tengah yang perlu lebih siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem. Daftar wilayah tersebut meliputi Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Mungkid, Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sragen, Grobogan, dan Blora.

Potensi serupa juga disebut mengancam Ungaran, Temanggung, Kajen, Pemalang, Magelang, Salatiga, Tegal, Bumiayu, dan Majenang. Peringatan ini berlaku hingga Sabtu pagi, sehingga warga di wilayah terdampak diminta terus memantau perkembangan cuaca.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Agus Triyono, menekankan perhatian khusus bagi warga yang tinggal di lereng perbukitan dan daerah aliran sungai. Hujan ringan hingga sedang juga sudah terpantau mengguyur beberapa daerah sejak Jumat petang.

Risiko longsor dan genangan ikut meningkat

Kombinasi hujan, petir, angin kencang, dan kelembaban tinggi membuat ancaman bencana hidrometeorologi perlu diantisipasi lebih awal. Dalam situasi seperti ini, genangan, longsor, dan gangguan aktivitas luar ruang menjadi risiko yang paling dikhawatirkan.

Daerah dengan kontur labil memang lebih mudah terdampak ketika hujan berlangsung terus-menerus. Karena itu, warga di kawasan rawan diminta memperhatikan tanda-tanda awal, terutama saat aliran air berubah dan tanah mulai menunjukkan gejala tidak stabil.

BMKG juga mencatat angin bertiup ke arah barat daya dengan kecepatan mencapai 20 kilometer per jam. Suhu udara di wilayah terdampak diperkirakan berada pada rentang 14 hingga 30 derajat Celcius.

Lereng, dataran tinggi, dan bantaran sungai jadi titik paling rawan

Peringatan ini menjadi penting karena wilayah lereng dan sungai biasanya lebih rentan saat hujan datang bersama kondisi tanah yang labil. Situasi semacam itu dapat mengganggu mobilitas warga, terutama di area pegunungan dan dataran tinggi yang jalannya juga lebih mudah terdampak gangguan cuaca.

BMKG menilai aktivitas harian di ruang terbuka perlu disesuaikan dengan kondisi tersebut. Perjalanan darat dan kegiatan luar ruang di wilayah yang dilintasi hujan intens juga berpotensi ikut terganggu.

Di sisi lain, warga yang tinggal dekat aliran sungai diminta tidak mengabaikan perubahan cuaca yang terjadi mendadak. Saat hujan turun terus-menerus, kewaspadaan terhadap potensi bencana perlu dijaga sejak awal.

Perairan utara dan selatan Jawa Tengah juga dipantau

Peringatan cuaca tidak hanya berlaku di daratan. Dari sektor maritim, Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Retna Swasti Karini, menyebut perairan utara Jawa Tengah relatif tenang dengan gelombang maksimal 1,25 meter.

Berbeda dengan itu, perairan selatan dapat mencapai gelombang 2,5 meter. Meski air laut pasang mulai surut pada malam hari, kegiatan di laut tetap perlu waspada karena kondisi angin dan gelombang masih dapat memengaruhi keselamatan pelayaran.

Risiko ini terutama berlaku bagi nelayan, tongkang, serta angkutan barang dan penumpang saat kecepatan angin melampaui 15 knot. Karena itu, BMKG menilai situasi cuaca di darat maupun laut sama-sama perlu dicermati secara berkala oleh warga Jawa Tengah.

Source: www.babelinsight.id

Baca Juga

Back to top button